2 Komentar

Hujan dan Petir

Lecut di angkasa senja menggelegar menyambar dari satu gumpalan ke gumpalan lain. Gumpalan hitam yang semakin menebal bergerak perlahan-lahan. Seperti mengisi tangis baratayuda di kurusetra. Perang tanding saudara sedarah. Gumpalan seperti saling serang, hujan anak panah berseliweran, memenggal mangsa kurusetra yang nelangsa. Bisma menunggu ajal menyerahkan dada pada anak panah Srikandi. Arjuna harus tega melepaskan nyawa saudara seibunya. Kilat menyambar berseliweran.

Saling tarik eletron menciptakan gelegar menakutkan anak-anak kecil. Seperti lontaran bom dari pesawat penyerbu sebagaimana film-film laga mempertontonkan aksinya. Kilat saling sambar menyilaukan pandangan. Tak lama, segera muncrat deras berkepanjangan, selokan melebar memindahkan segala isinya yang menyumbat ke jalan raya. Segala ulah manusia buang sampah sembarangan kena getahnya. Bahkan apes yang tepi jalan rumahnya. Banyak kapal jejadian berlayar di tengah jalan, yang kadang kelindas mobil yang melintas, muncratlah air kecoklatan ke sembarang tempat. Ilalang tak mampu menahan laju gelombang, meski juga tak sampai tumbang. Cukup sedikit rebahan mempersilahkan sampah-sampah melayarkan kisah.

Jangan heran ada pokok besar yang gagal menahan hempasan angin. Tumbang mennghalangi jalan. Tak sedikit terpaksa para pengguna jalan tertunda melanjutkan perjalanan. Menunggu petugas memotong bagian demi bagian menariknya ke pinggiran jalan. Hanyalah orang-orang nekat yang tetap melintas dalam bahaya hujan, petir melontarkan kemarahan bergantian. Ada juga satu dua pohon terbagi dua oleh lontaran elektron yang mencari jalan tercepatnya menuju bumi. Apes, pohon besar yang sendirian terhempas. Terbagi di tengah-tengah. Derak menggelegar, bedebum jatuh bagian yang rindang.

Tempatku yang kini adalah sudah langganan. Setiap musim hujan petir seperti tak mau berhenti memperdengarkan kengerian. Mengabarkan begitu kuasa memekakkan telinga juga menebar kengerian. Suara gelegar seperti tepat di bubungan atap. Selalu lampu jadi padam. Kami biasa bersabar demikian. Tak perlu ada gerutuan, nanti juga petugas akan datang, tentu setelah reda datang.

2 comments on “Hujan dan Petir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Take It Upon Yourself

Wholly Vibrant Living: Mind, Body, Spirit, and Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Blog Site of Gabriele R.

Post, news, diary... All the world around me, ALL THE WORDS AROUND YOU

Katherine's Blog

In Kate's World

BBYCGN

Poetry, Creative Writing, Quotes, Analogies ©BBYCGN

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: