Tinggalkan komentar

Jendela dan pintu tak berkeriap

Di beranda sebuah rumah suplir mengerling pasrah daun layu lama tak bersentuhan dengan udara basah juga lupa tak mendapatkan guyuran gayung bercorong lembut yang jatuh mengabut. Spora merana rontok sebelum tua. Kesepian mendera tak juga menemukan ujung.

Jendela dan pintu tak berkeriap. Rapat-rapat menahan ketukan angin, hanya membiarkan menelusup tanpa mempersilakan masuk. Debu-debu dibiarkan mengental di dasar lantai tanpa lidi dalam jalinan diseret menghalau juga tak ada selembar papan yang menghalang.

Sepertinya tanda-tanda hunian telah lama ditinggalkan penghuninya. Ataukah penghuni yang kehilangan gairah, pasrah pada polah angin membuat berantakan beranda depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Take It Upon Yourself

Wholly Vibrant Living: Mind, Body, Spirit, and Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Blog Site of Gabriele R.

Post, news, diary... All the world around me, ALL THE WORDS AROUND YOU

Katherine's Blog

In Kate's World

Trial By Fire

Poetry, Creative Writing, Quotes, Analogies ©BBYCGN

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: