Aku menulis karena apa? Mengapa aku menulis? Itulah pertanyaan yang sesekali muncul dalam benakku. Pertanyaan sederhana namun belum tentu sederhana pula jawabannya. Setidaknya perlu menanyakan pada kejernihan hati. Menelisik kembali perjalanan panjang yang mengalami pasang surut dalam kepenulisan. Ada masa-masa kekosongan tanpa ada tulisan yang dihasilkan.
Secara sederhana bisa saja kukatakan aku menulis karena ingin menulis. Jika seperti itu maka selesailah sudah. Tak perlu ada pertanyaan lanjutan maupun penjelasan yang panjang lebar.
Tiap orang dalam melakukan sesuatu, apalagi dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang, tentu tidak cukup hanya dijelaskan karena ingin semata. Alasan yang bisa dikemukakan pun bisa semakin banyak. Bisa sederhana mungkin juga semakin panjang uraiannya.
Kucoba mengingat kembali apa yang telah kulakukan selama ini, tentu kaitannya dengan dunia tulis-menulis. Adakah materi yang kuinginkan? Ada berapa tulisan yang mendapatkan imbalan materi? Ada pengalaman beberapa tulisan masuk media cetak tapi tanpa mendapatkan honor, cukup bahwa namaku tercantum disitu. Ada juga yang secara rutin memberikan honor, karena aku merupakan bagian dari team redaksinya.
Saat ini tulisanku lebih banyak dimuat di media online, sebagian besar ada di WordPress, baik akun pribadi maupun komunitas, tentu akun pribadi mendapat porsi lebih banyak. Sebagian lagi yang sebenarnya hanyalah duplikasi dari WordPress kutitipkan di Facebook. Pernah juga kuulas menjadi tulisan tersendiri, bersastra di dunia maya.
Selama ini, ketika aku selesai menulis ada rasa lega yang perlahan-lahan terasakan. Tak bisa dipungkiri beberapa tulisan justru muncul saat suntuk, seperti bosan menunggu suatu acara tidak segera mulai, padahal jadwalnya sudah lewat, jadilah puisi tentang pantura. Pernah juga dalam perjalanan melihat sesuatu yang terasa unik, tiba-tiba timbul ide untuk memuisikannya. Seperti ketika aku sedang menunggu bis di Terminal Mangkang (Semarang) melihat cara berkomunikasi keluarga juga candaan (jika duagaanku benar itu adalah keluarga) yang semuanya tuna wicara. Dan kenangan banyak mendominasi puisi-puisiku.
Sebagai seorang muslim tentu aku berharap tulisan-tulisan yang kuhasilkan tidak sekedar tulisan sampah. Tidak sekedar mengeluarkan uneg-uneg yang perlu dibuang. Harapannya tulisan itu dibaca oleh banyak orang yang kemudian bisa menginspirasi dalam kebaikan. Agar tulisanku tidak menjadi tulisan yang tak bermakna di masa depan.
Tulisan ini pernah tayang di ikatan kata
Sama mas. Saya sedang fase mau berhenti ngeblog dan maksain nulis walau hasil tulisannya juga kurang memuaskan. Namun, itu tadi. Saya akhirnya menyadari saya menulis karena saya memang ingin menulis. Mungkin sedang ingin take a rest saja kali ya.
ayo nulis kembali
Iya mas. Dua hari kemaren maksain nulis tentang Rusia mumpung lagi ngetrend. Hahaha, sekarang mau blogwalking saja dan baca2 dulu.
siplah, salah satu cara yang juga juga kugunakan untuk memantik diri mendapatkan ide adalah dengan blogwalking
i tuoi pensieri sulla scrittura. e sul suo valore e il desiderio che i tuoi scritti vengano letti e siano oggetto di riflessione da parte degli altri, penso che siano pensieri di tutti quelli che scrivono . anche per me è la stessa cosa, al di là di ogni religione o di non religione…buona giornata.
si, concordo pienamente con il tuo pensiero, grazie
Interesting to read your thoughts on why you write and writing. I often wonder why I write but the answer always comes that I like to write . And writing for my blog pushed me to learn more about photography especially horse photography. So have learned something .
Everyone has their own reasons for writing. we have learned something, I agree