Tinggalkan komentar

Meneladani Para Pahlawan

Bulan November lazimnya kita peringati sebagai hari pahlawan. Bermula dari upaya arek-arek Surabaya yang mempertaruhkan nyawa mempertahankan negara yang baru saja resmi dinyatakan merdeka, namun pihak penjajah yang didukung pihak Sekutu berupaya menjegal kemerdekaan bangsa ini. Digawangi oleh Bung Tomo dengan menggemakan Allahu akbar, membakar semangat para pejuang saat itu.

Demikian juga yang sebelumnya dengan heroiknya Hadratusysyaikh Hasyim Asyari yang menggelorakan resolusi jihad mengajak segenap umat Islam untuk mempertahankan negara yang baru merdeka ini dengan segenap jiwa raga, meskipun jelas dengan persenjataan yang tidak seimbang, tetapi semangat yang luar biasa mampu mengalahkan arogansi penjajah yang bersenjatakan jauh lebih lengkap.

Mengenal pahlawan bangsa ini tidak akan ada habisnya. Kerelaan berjuang, keteladanan dalam bersikap, jiwa kepemimpinannya benar-benar luar biasa. Visi kedepan pun jauh melampui orang-orang di sekitarnya, orang-orang sezamannya. Sebagaimana Imam Bonjol memelopori perbaikan bidang agama sekaligus memimpin upaya mengusir penjajah yang sezaman dengan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta. Tak seperti yang banyak disebutkan dalam buku-buku pelajaran, sebenarnya alasan utama Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda bukanlah factor keluarga atau bahkan hanya urusan tanah kuburan, akan tetapi lebih luas lagi adalah urusan akidah, kaitannya dengan agama yang kita anut ini.

Pahlawan, ada yang secara resmi dinyatakan sebagai pahlawan oleh pemerintah berdasarkan aturan-aturan yang telah ditetapkan.  Ada pahlawan perjuangan kemerdekaan, ada pahlawan semasa mempertahankan kemerdekaan atau ada juga pahlawan yang disematkan dengan gelar anumerta karena upayanya mempertahankan NKRI dan sekaligus menjadi korban keganasan konumis, yang kita kenal sebutan tujuh pahlawan revolusi. Persis dengan nama jalan yang ada di Cirebon.

Menelaah tegaknya NKRI kita tidak bisa melupakan peran penting dua orang tokoh yang berasal dari Yogyakarta dan dari Sumatra Barat.

Sultan Hamengkubuwono IX Raja Jawa saat itu, dengan kerelaannya menyatakan wilayahnya secara penuh bergabung dengan RI negara yang baru saja diproklamirkan kemerdekaannya di Jakarta. Begitu legowo melepaskan wilayah kekuasaannya menjadi bagian dari RI, padahal negaranya sudah berdiri berabad-abad lamanya justru memasrahkan pada negara yang baru saja terbentuk. Tidak cukup hanya sampai di situ, pada saat Belanda melakuan aksi polisionalnya (menurut versi Belanda) yang sebenarnya adalah agresi militer yang menyerang ibukota negara, Sultan mengundang Presiden Soekarno untuk segera berpindah ke Yogyakarta. Kraton Yogyakarta sebagai bagian dari RI siap berjuang bersama-sama dengan pemerintah pusat, sekaligus menyediakan istana sebagai tempat presiden mengendalikan pemerintahannya.

Sultan juga yang menginisiasi adanya serangan umum 11 maret untuk membuktikan kepada dunia bahwa negara Indonesia benar-benar ada, bukan kumpulan para criminal sebagaimana yang selalu digaungkan oleh pihak Belanda. Serangan Umum inilah yang mengakhiri kekuasaan Belanda di Indonesia. Ibukota negara kembali ke Jakarta. Pengorbanan Sultan masih berlanjut. Sultan menyerahkan cek senilai enam juta gulden untuk menjalankan pemerintahan Indonesia kepada Soekarno, dikarenakan pemerintah memang belum memiliki dana untuk menjalankan roda pemerintahan.

Tokoh berikutnya adalah Moh Natsir dengan Mosi Integralnya.

Mosi ini tidak lahir begitu saja. Terjadinya perdebatan di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang merupakan aspirasi masyarakat Indonesia yang kecewa terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, 23 Agustus2 November 1949.

Dalam pengajuannya ke parlemen banyak yang menolak. Pihak yang termasuk menolak hasil KMB adalah Natsir yang waktu itu Menteri Penerangan (Menpen) dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Natsir menolak jabatan Menpen dan memilih berkonsentrasi memimpin Fraksi Masyumi di DPR-RIS. Salah satu alasan Natsir menolak jabatan itu adalah karena tidak menyetujui Irian Barat bukan bagian dari RIS.

Mohammad Hatta selaku Perdana Menteri RIS menugaskan Natsir dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis yang terjadi di daerah. Pengalaman keliling daerah menambah jaringan Natsir. Selain itu, kecakapannya berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, telah mendorong Natsir ke satu kesimpulan, negara-negara bagian itu mau membubarkan diri untuk bersatu dengan RI—asal jangan disuruh bubar sendiri.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah-daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral” dan disampaikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

trozos de mazapán.

cartas o historias pequeñas de amor tan dulces y desmoronables como un mazapán.

HorseAddict

The world is best viewed through the ears of a horse.

Akhwat Peramu Kata

Meramu, Menulis, lalu dikenang 🌻

DoRee MelNic

Grief Out Loud. Art. And Life.

MYSELF

AS HUMILDES OPINIÕES DE UMA MULHER DE CORAGEM QUE DIZ SIM À VIDA!

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Wholly Integrating

Integrating Spirit and Soul with Mind-Body

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

° BLOG ° Gabriele Romano

The flight of tomorrow

Katherine's Blog

In Kate's World

BBYCGN Writing

Creative Writing, Quotes, Poetry, Short Stories and More!

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: