cerpen

Aku Memang Cinta

Aku telah jatuh cinta sejak masih belia. Namun tak pernah berani mengungkapkan. Apalah daya, aku hanyalah anak kampung yang sejak kecil tak lagi bersama ayah. Rasa itu kupendam diam-diam. Kadang menyengaja ke perpustakaan sendirian demi menemukan dirinya. Bisa melihatnya sangat menggembirakan. Maka tak usah heran kalau waktu SMP aku telah menduduki peringkat satu sebagai pengunjung […]

Tinggal selarik doa

Awal, Agustus 97 Meski berselimutkan gigil kupaksakan juga ke rumah Pak Kades. Jalanan sepi, maklum mana ada yang mau kedinginan di luar rumah. Televisi filmnya bagus lagi. Mungkin pula sedang bermain bulu tangkis di balai desa. Anak-anak kalong ke mana ya? Nonton kungfu sambil ngopi dan ngerumpi atau main corat coret sembarang kertas. Bisa jadi. […]

Balada Seorang Lengger

Ini sesuatu yang luar biasa. Sembilan belas orang yang belum tentu pernah saling bertemu bersepakat untuk menyumbangkan masing-masing satu karya untuk antologi yang juga sangat istimewa. Betapa tidak, tema yang diusung tak tanggung-tanggung. Kalau saya dulu ikut di Antologi Kata Orang Aku Mirip Yusuf, perekatnya hanyalah daerah asal penulis yang dari jawa, namun kali ini […]

Terlewatkan

sayangnya saya tak bisa hadir dalam kesempatan ini, sekaligus mohon maaf kepada rekan-rekan Penamas atas ketidakhadirannya Antologi yang berisi 19 cerpen ini semuanya mewakili latar belakang Banyumas Raya, baik dalam arti wilayah maupun budayanya. Dan cukup berhasil. Baik citarasa, pengaruh tata nilai, maupun nuansa kebanyumasannya sangat terasa. Ciri khas kelokalan Banyumas sekaligus menjadi salah satu […]

BULAN RETAK

Tubuhku bergetar hebat. Mukaku carut marut berlipat-lipat. Kusut. Lagi-lagi anak nakal itu menyatroni rumahku.anak tak tahu diri. Kuberi ia nasi, membalas dengan melempariku kotoran. Anak sial. Maunya bikin susah orang saja. Ingin rasanya segera kutendang ia, kuhajar habis-habisan, kulumat jadi batangan kecil-kecil jika perlu sampai seperti debu yang beterbangan begitu mudah kutiup. Biar. Biar anak […]

Cermin dan Malam Ganjil

Kisah ini masih ada sambungannya dengan kado cinta. Kalau Merah di Jenin saya beli langsung waktu Bazar Milad FLP, maka Cermin dan Malam Ganjil saya dapatkan sehari setelah milad selesai. Inipun sesuatu yang tak terduga. Waktu itu sebagai anggota rombongan yang paling tua dari Jawa Tengah maka saya didaulat sebagai pimpinan rombongan (meskipun berangkatnya sendiri-sendiri). […]

Kado Cinta untuk Sebuah Negeri

Kado istimewa ini sebenarnya sudah sangat lama. Saya peroleh di Kuningan Jakarta Selatan. Saat itu pula saya bertemu untuk yang kedua kalinya dengan Pak Taufiq Ismail dan Mbak Helvy Tiana Rosa. Pertama kali bertemu dan sekaligus satu kamar dengan penulis beken novel