Tinggalkan komentar

Belum Kutahu

belum kutahu ngilu yang kian beronak
hilir mudik di jalanan masih melenggang
himbauan kian parau menendang pendengaran
lalu lalang melenggang masih tak karuan
memang benar; semua kehendak tuhan
di liang manapun tak dapat terelakkan

kita selalu bisa temukan kabar harian
angka-angka yang selalu bertambah panjang
semakin jarang bertandang semakin aman
bukan jalan melupakan tuhan
berdiamlah barang sejenak
menahan agar tak banyak berbiak

3 Komentar

Merentang Bayang-bayang

hanyalah senja; merentang bayang-bayang
menjemput malam di persimpangan jalan
menyisir waktu, segalanya mengumpul sunyi
lengang menyeret misteri kian menyelimuti
lampu kota timbul tenggelam nyaris padam
perempatan lampu pengatur kehilangan peran

alangkah jauh langkah yang harus ditempuh
ketakutan kehilangan tanpa pelayat datang
kesepian batu-batu terasa menyakitkan
begitu lambat jarum jam merambat

orang-orang bercerita tentang muram
kota-kota suram semakin tenggelam
di tengah negeri yang sulit kumengerti
perdebatan tentang peluang mengembang
minim pengetahuan tanpa pijakan

hanyalah pagi; yang dinanti segera datang
menyembuhkan musim yang meradang
benderang, sirna segala sirna ketakutan
simpul waktu menambatkan kesembuhan
menggamit segala sakit dilarungkan kemudian

28 Maret 2020

2 Komentar

dari Mulut ke Mulut

Dari mulut ke mulut. Lanjut terus dilanjut. Konon ceritanya katanya telah diceritakan. Sambung menyambung dari lidah ke telinga, menyebar ke banyak telinga tentang yang telah diceritakan bersama-sama. Kisah yang diulang-ulang, menggulung, tambal sulam seperti menanam, menggelinding ke sana ke mari seperti bola salju. Menggerus di setiap lekuk perjalanan. Selera pencerita turut menambah garam keindahan. Makin meramu tambah bumbu. Menggunung melebihi empunya punya cerita.

Dari mulut ke mulut dituturkan berulang kali. Menjadi cerita milik bersama. Tak jelas siapa pemilik mulanya. Salah benar tak lagi dirasa. Tak jarang dianggap kebenaran itu sendiri tanpa perlu diteliti kembali. Keganjilan yan menyertai dianggap nilai tambah tersendiri yang perlu tetap lestari. Tak lagi penting ada yang tak mengerti. Atas nama nguri-uri yang hampir mati di jaman ini.

Dari mulut ke mulut. Seperti kabut mengaduk-aduk. Terus meliuk ke ceruk-ceruk. Merasuk ke relung meresap ke pusat keyakinan itu tak perlu dipertanyakan. Adanya begitu dari dulu yang telah diceritakan berulang-ulang. Didongengkan para emak, para ibu, para simbok, berulangkali kepada anak-anak mereka sebagai pengantar tidur juga keyakinan yang dalam demikianlah adanya. Cerita yang mengalir begitu saja.

Dari mulut ke mulut, konon ceritanya gemah ripah loh jinawi. Sebatang tongkat ditauh bisa tumbuh. Sedikit dikatakan tentang prasasti menapak pada bebatuan. Cap kaki penanda bukti. Mukti yang pernah diraih yang bisa dikabarkan sampai sekarang. Mulawarnan, Purnawarman, Airlangga, Ken Aron, Siliwangi, Hayam Wuruk, memimpin negeri-negeri loh jinawi berkelanjutan Samudra Pasai, Demak, Pajang, hingga Mataram Ngayogyokarta, Surakarta, Banten, Cirebon yang bisa kita temukan setidaknya nama-nama yang demikian.
Masih juga dari mulut ke mulut tentang perjalanan, entah kita temukan kenyataan entah hanya dongengan sampai sekarang. Seseorang menjaga kali hingga dikenal jadi sunan. Anjing yang menurunkan lelaki yang jatuh cinta pada ibundanya. Seorang alim mencari guru ke selatan istrinya ketinggalan. Tokoh sakti menangkap petir dan memenjarakan. Usus terburai masih tegak berdiri.
Dari mulut ke mulut. Daur ulang menjadi tontonan. Dituliskan para pengarang. Dilayarlebarkan mengeruk keuntungan.

25 Maret 2020

Tinggalkan komentar

Lapangan Rumput, Embun Mengedut

Lapangan rumput, embun mengedut susut. Sebelum dipangkas mesin pemotong yang meraung-raung menyentak telinga. Serangga menyelip mencari bunga mencari dasar bunga, menyesap manis bunga menjerat nektar sekenanya. Berpesta. Disela-sela rumput. Belalang memotong-motong rumput kekenyangan. Tanpa raungan. Juga melepaskan kotorannya.

Lapangan rumput, matahari membuat terang. Embun makin susut makin hilang, mengawang menghadap langit menjadi awan. Serangga masih saja berkeliaran. Meliuk-liuk mencari pakan. Sesekali burung nyasar menangkap belalang. Juga beberapa ayam lepas dari kandang. Bersaing mencari kenyang di lapangan. Daun lembut dan belalang jadi santapan. Tembolok semakin menonjol.

Lapangan rumput. Anak kecil menggiring sekawanan kambing. Membiarkan kambing menentukan pilihan. Menggelandang setiap sudut lapangan mencicipi setiap tangkal rumput. Menginjak-injak rumput. Merenggut sejumput rumput berulang-ulang. Bebas berkejaran. Menakuti serangga yang juga cari makan.

Lapangan rumput. Yakin embun tak meninggalkan sisa. Seorang ibu menyeret karung mengamparkan di sudut lapang. Menindih belalang, capung, kupu-kupu, semua tak berkutik. Tak sanggup menjerit. Tak ada yang mengulurkan pertolongan. Burung terkejut mengepakkan melenggang. Ayam diusir menjauhi lapangan. Seorang ibu menggelontorkan gabah basah hasil panen kemaren. Berharap tak ada mendung tak ada hujan sampai setidaknya siang. Jika mungkin sampai petang.

23 maret 2020

2 Komentar

Ingin Kutuliskan Kebersamaan

ingin kutuliskan kebersamaan pada telapak tangan
goresan status singkat sederhana di media sosial
pada suatu hari, menggiringku pada trenyuh
seperti pesan tersembunyi di balik puisi
hanya beberapa orang saja yang boleh tahu
ketika meramu debar dalam belenggu bisu
menyatukan jarak dan temu pada goresan kata
kilometer yang sudah jauh direngkuh
menuju pertemuan yang telah direncanakan
ketika ingatan beradu pada ceruk kebimbangan
merawatnya untuk menumbuhkan ingatan
berbaik-baiklah, agar seucap doa tersampaikan
tak perlu bosan menghitung terlewatnya bulan
untuk terkabulnya tetap dalam kebersamaan
karena kisah kita masih berkepanjangan
biarlah berlembar-lembar puisi dilagukan
menemani setiap perjamuan yang diadakan
tanpa terselip sepenggal kisah pertikaian
mari, marilah kita aminkan

23 maret 2020

Tinggalkan komentar

Dua Kawah Sepertinya Marah

Ingatkah kawan, saat untai kabut merebut pagi. Matahari hanya sedikit berbagi. Kita berlari-lari menikmati sepi. Canda ria di jalan aspal yang bagus sekali. Tetap berkalungkan sarung dan jaket tebal. Sedikit kita temukan petani, beberapa telah kembali meneliti air agar tak berhenti. Tidak berhenti tetap mengalir, tidak juga menggenang. Itulah maunya umbi kentang. Orang sana bilang mirip kurma. Tapi kawan, ini di pegunungan. Di bawah dua puluh derajat

Dongeng itu kawan. Seperti juga pagi ini. Jauh lebih sepi. Petani belum beranjak pergi dari balik selimut. Kabut yang merebut, bukan, itu bukanlah kabut. Asap bertuba meliuk-liuk tak melebihi pundak orang dewasa mengular ke mana-mana. Seperti digiring angin tak boleh beranjak ke atas, mengalir dan terus mengalir. Cukup berkelok di atas permukaan menjalar melebar mengabarkan duka yang tiba-tiba. Mengikuti ke mana lembah berkelok. Menyesap nyawa begitu cepat, tentu banyak yang tak siap. Meracuni urat nafas siapa saja yang kesasar menghirup tanpa sadar. Apalagi pengetahuan yang belum seberapa. Teknologi seadanya yang dipunya.

Dongeng itu yang baru kemaren kita dengar bersama. Beberapa puluh tahun silam. Di halaman sekolah dasar tanpa kabar pecah membelah membuat kawah. Dentuman selepas tengah malam mengagetkan seperti meriam ditembakkan. Ditambah cahaya menyilaukan. Mengguncang segenap perkampungan, membangunkan hingga lari tunggang langgang. Tak tentu arah. Belerang diikuti pekatnya karbondioksida mengabarkan kematian siapa saja yang menghisapnya. Merobek urat pernafasan, tidak cukup sampai itu saja. Tubuh bergelimpangan di jalanan. Gosong seperti dipanggang.

Masih kita temukan kisahnya. Petunjuk arah tak ditemukan kemana kaki harus melangkah. Salah langkah menambah besar kematian. Bukan memunggungi belerang menyembur, justru menyerahkan dada dilahap bencana. Jalur evakuasi yang belum banyak dikenali. Naluri menuruti langkah ternyata salah. Tercatat kemudian 149 nyawa melayang.

Puluhan tahun silam. Dua kawah sepertinya marah. Entah apa penyebabnya asap beracun menguar turun ke lembah-lembah.

22 maret 2020

7 Komentar

Kabut yang Mengedut

kabut yang mengedut di sudut
timbul tenggelam menyulam kelam
pada malam menyingkirkan lamunan
cawan doa selalu dalam genggaman
menafsirkan permohonan panjang
di tengah resah gelombang wabah
sekelebatan merambah menyapu wilayah
kompromi hati dan ikhtiar manusiawi

22 Maret 2020

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Take It Upon Yourself

Wholly Vibrant Living: Mind, Body, Spirit, and Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Blog Site of Gabriele R.

Post, news, diary... All the world around me, ALL THE WORDS AROUND YOU

Katherine's Blog

In Kate's World

Trial By Fire

Poetry, Quotes, Creative Writing, Copyright ©BBYCGN

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)