Tag Archive | puisi

Tak Berjudul

kau bilang jangan terprovokasi tak ada kaitan dengan keyakinan hanyalah urusan internal mereka kubilang kamuflase basi retorika sana sini sembunyikan fakta asli sekedar upaya orasi Iklan

Setengah tiang

setengah abad baru juga lewat kisah kemanusian yang menyayat dalam ikatan siksa sekarat tubuh-tubuh menjadi mayat di lubang dalam nan pengap benturan ideologi penuh darah intrik-intrik sengaja memicu marah tak peduli sebenarnya lawan tak salah di akhir tragedi tak mau dianggap salah prasasti ditetapkan setengah tiang penghormatan sekaligus perkabungan terhadap nyawa melayang tak berbilang menghadang […]

Bolehlah

bolehlah kuabaikan fatwa ahli peran memfatwakan ahli fatwa mungkin saja ia ngakak tertawa bila kubicara seolah ahli peran ahli peran kok diajari bersandiwara hanya oleh orang awam

menerjang kelu (Re Post)

menamatkanmu terhadang kelu bukan atas nama tak mampu tak lagi seperti dulu menderaskanmu sembarang waktu atas nama ini dan itu kadang dilirik pun tidak tergeletak di rak terselip dalam deretan kisah mahabarata, Ramayana, senopati pamungkas, dan setumpuk naskah berserak menelisikmu kembali terseok-seok mengais asa tersaruk kerikil dan duri perjalanan tetap berharap sempat menamatkanmu tanpa kelu […]

Golput

nggaklah aku memilih untuk tetap memilih tak usah kau bujuk untuk tidak memilih syukur-syukur kau ikut memilih aku tak butuh janji apalagi bujuk rayu semacam kembali ke masa lalu aku tak amnesia kiprah yang yang lewat tercatat kuat dalam benak meski iklan kini berbeda (hanyalah igauan anak bawang yang sok sibuk, sehingga lama tak sempat […]

Hutan jati

kawan, disinilah tempat kita berpacu bersama mendulang asa dalam sekeranjang ceria mengumpulkan rumput untuk ternak kita sambil menikmati sandiwara brama kumbara masih ingatkah kawan dari sapi dan kambinglah kita bisa sekolah beranak pinak, kemudian kita lipat jadi rupiah tahukah kawan semuanya kini telah berubah tak ada lagi sebatang singkong yang rebah tanpa bisa kita telusuri […]

Menyapa Rindu

ada yang berdesir lembut di sudut hati demi mengeja kembali deretan abjad abjad yang tertoreh di setangkai daun kering jatuh meliuk memeluk sunyi bumi makin bergairah ramah pada takdir tempat lahir, tumbuh bersama dan kemudian mati jadi bunga tanah ada yang berkesiur rendah mengeja angin meniti jejak gelombang pasang samudra tak jarang menendang batu karang […]