Tag Archive | uneg-uneg

Kutemukan Unik di Belakang Rumah

Setengah tiang

setengah abad baru juga lewat kisah kemanusian yang menyayat dalam ikatan siksa sekarat tubuh-tubuh menjadi mayat di lubang dalam nan pengap benturan ideologi penuh darah intrik-intrik sengaja memicu marah tak peduli sebenarnya lawan tak salah di akhir tragedi tak mau dianggap salah prasasti ditetapkan setengah tiang penghormatan sekaligus perkabungan terhadap nyawa melayang tak berbilang menghadang […]

Jangan Renggut Aku

Aku bukanlah penikmatnya apalagi pecandunya. Jangankan seperti itu sekedar niat untuk mencicip saja tak terbersit sama sekali. Mulanya aku tak peduli. Tak ikut nimbrung komentar apapun, tapi lama kelamaan gatal juga. Banyak wacana berseliweran.

Oleh Sepotong Koran

Entah tahun berapa tak lagi kutemukan dalam memoriku. Darimana pula kudapatkan juga tak ada ingatan yang bisa dilacak. Hanya saja selembar pun tak utuh telah membuatku bermimpi jauh mengawang. Bahkan namanyapun tak ingat persis apakah yang terbit pagi ataukah siang, yang jelas asalnya dari Semarang. Kuulang dan ulang lagi membacanya.

Hutan Rakyat

Saatnya pulang kampung. Menengok sahabat karib, kerabat yang telah lama tak jumpa. Sungkem pada ibu yang sudah cukup lama tak jua kukunjungi. Mumpung anak sedang liburan semester. Sekaligus biar melepas rindu bertemu dengan mbah dan kakak-kakak sepupunya. Kangen dengan kampung halaman. Alhamdulillah, perjalanan lancar meski sedikit tersendat saat lewat Bawen terutama selepas terminal Bawen hingga […]

Menyapa Rindu

ada yang berdesir lembut di sudut hati demi mengeja kembali deretan abjad abjad yang tertoreh di setangkai daun kering jatuh meliuk memeluk sunyi bumi makin bergairah ramah pada takdir tempat lahir, tumbuh bersama dan kemudian mati jadi bunga tanah ada yang berkesiur rendah mengeja angin meniti jejak gelombang pasang samudra tak jarang menendang batu karang […]

musim kering

di musim yang tandus angin kering menggiring debu menggulung dengung keluh musim ini hanya menyisakan peluh reranting mengering dedaunan melantai satu persatu dalam wujud coklat tanpa daya dipermainkan liukan angin jatuh di kelokan jalan di musim kering hanyalah terik di atas kepala memeras peluh tak peduli sejuta keluh selaksa desah di musim yang tandus tanah […]