2 Komentar

DI SEBUAH SENJA

sebuah senja; di beranda mengumpulkan benih-benih puisi
di tampung dalam ceruk tempurung nyamplung
yang dipetik kemaren bersama nyaring tonggeret
menyapa lambaian daun daunan yang kian basah
oleh guyuran musim yang sempat cemas terlambat

angin yang dulu menggulung daun kering
telah memintal harapan di lubuk hati petani
membelai menyerbuk bertangkai tangkai padi
menghempas rasa cemas yang sempat memanas
sebelum tonggeret, jangkrik bernyanyi nyaring

sebuah senja; telah kurangkum semua doa
merendam benih-benih puisi dalam tempurung
bersama secawan air zam-zam pemberian teman
selepas pulang berziarah dari negeri mekkah
agar besok benih yang ditanam tumbuh penuh berkah

sebuah malam disudut kampungmanis, 20:50 07/12/18

Iklan
6 Komentar

Kenangan

di depan rumpun bambu yang berderak
bambu ampel yang berjasa mengganjal perut kita
kita nyalakan lagi api kenangan bersama ayah
di serambi depan menghadirkan berjuta kenangan
meski kuraba dalam samar tubuh kurus wajah cerah

teramat susah mengingat wajah
yang terekam dalam ingatan bocah
namun terasa lekat saat-saat di sawah
berlarian sepanjang lumpur seakan membajak tanah
tak ada tegur yang bikin ciut karena amarah

mari, mari kita nyalakan kembali
lalu lalang menyapa diriku dikira ayah
entah aku atau mereka yang salah
padahal terbentang jarak tak hanya sepenggalah

kampungmanis, ujian belum juga usai 14:55 4/12/2018

6 Komentar

Telah kutanam Benih Kerinduan

di tanah kelahiran telah kutanam benih kerinduan
terentang jarak waktu perjalanan dalam perantauan
kerontang kemarau silau pada ingatan
memikul beban pengharapan di titian pematang
air sepikulan mengambil di belik sebelah selatan
batas kampung yang dijamah lewat jalan setapak

di tanah kelahiran telah kutanam benih kerinduan
kerontang kemarau yang membukakan tanah
dicungkil dengan linggis berbongkah-bongkah
cara entah dari mana mendapatkan bunga tanah
menunggu kemarau hingga tak lagi hirau

di tanah kelahiran telah kutanam benih kerinduan
air sepikulan dari belik batas kampung selatan
jalan setapak yang timbul tenggelam
tak tercatat dalam sejarah peta pelajaran
berdendang tak ambil pusing meski sumbang

di tanah kelahiran telah kutanam benih kerinduan
membakar jagung sembari berdiang di depan perapian
sebenar gigil terperangkap hujan saat mencari pakan
untuk ternak kesayangan tabungan masa depan
di luar
: kemarau telah lama ditanggalkan, lebat tak terelakkan

di tanah kelahiran telah kutanam benih kerinduan
sepincuk nasi jagung sambel tumpang di beranda depan
uwi, gadung, suwek, segala umbi yang tinggal ingatan
hanyalah segelintir saja yang masih dikenal anak sekarang

 

jelang siang di kampungmanis, 27/11/2018

Tinggalkan komentar

Derai Rumpun Bambu

bersitan bersitan yang mengendarai derai bambu
menderu menyeruak rumpun yang kian mengering
berderak pada ranting kering patah meliuk pelan
sepelan angin membelai daun kerontang di kemarau panjang
menumpuk di dasar kehidupan membentuk gundukan

selembar daun kering melenting dari reranting
kapuk randu yang merindu tebalnya bantal guling
pokok jati menyatakan diri lepas rutinitas
melepaskan reranting kering daun kering
hingga tubuhnya tak luput mengering
menghening menuju kedalaman bening

derai bambu yang menyeretku pada orde lalu
sempat dibabat mengingat kata pejabat setempat
mesti disebut tunduk taat jika sempat dibabat
mesti jauh-jauh dari pusat atau perempatan
hanyalah boleh tinggal segurumbul agar tak gundul
itupun rumpun rumpun pinggir kampung nun jauh
jauh dari yang disebut tempat tinggal

kemudian
ada saja yang sempat tak sependapat
meski mepet perempatan tetap harus dapat
tak bisa dibilang indah meski telah dibabat
bukankah meninggalkan ruang gersang

sang pejabat dengan tawa khasnya
silakan tanam demi keamanan
silakan lanjutkan demi ketenangan
jauh dari praduga yang ketakutan

kampungmanis, 22/11/2018

Tinggalkan komentar

Di paparan Terik

menunggumu di paparan terik
deru mesin hilir mudik
asap knalpot pekat mencekik
peluh tak terbendung membanjir
mengguyur sekujur tubuh

kerumuman dalam diam
komunikasi saling pandang
yang ditunggu tak kunjung datang
detak jam terus berdentangan

klakson bersahutan
tetap yangditunggu belum datang
di persimpangan telah banyak bergantian
berseliweran,
sayang bukan yang kami butuhkan

semarang, dibawah terik dalam penantian 19/11/2018

Tinggalkan komentar

Kenangan Hujan

bagaimana aku mengakrabi derai hujan
dalam secawan kerinduan pada pematang
meliuk membawa makanan dalam selendang
seriang jauh mata memandang kehijauan
tanpa sepenggal penghalang di hadapan

birunya waktu menunggu masa itu
hanyalah menujuMu yang satu
selalu merindu selautan berkahMu
tanpa bersitan sebutir gerutu

sesekali kami mesti berbagi
rizki ilahi tak hanya untuk insani
para pengerat mengasah gigi
pipit hinggap menyerap energi
manusia tak perlu merasa rugi
begitulah rasanya harmoni

bagaimana aku mengakrabi derai hujan
menanam padi yang kini jadi kenangan
karena mengembara di perantauan
 

kampungmanis tanah perantauan, 15/11/2018

2 Komentar

Sekedar Gumaman

Ini bukanlah puisi. Hanya gumaman tentang puisi. Pun bukan puisi orang lain. Hanyalah puisiku sendiri yang kadang juga tak kumengerti.

Kok aneh sih, punya sendiri tak dimengerti.

Itulah diriku. Aku tak mengerti secara pasti kapan mulai menulis puisi. Tak mengerti saat yang tepat kapan bisa berpuisi. Tak jarang tak mengerti apa maksud puisi yang pernah kutulis diwaktu silam. Yang pasti itulah sejarah diriku dalam berpuisi.
Yang tak kumengerti lagi adalah entah mengapa sebagian besar puisi-puisiku bernada muram. Gumam. Pernah sih kucoba menulis yang ceria, jadinya terasa kurang serius, seperti candaan, atau malah obrolan. Seperti Negeri Senjanya Pak Seno.

Cara mendapatkan puisi aku lebih tak mengerti lagi. Kadang tiba-tiba saja menyelinap setelah membaca sesuatu. Meski yang kutulis belum tentu langsung berkaitan dengan yang barusan dibaca, atau dilihat. Bisa juga langsung berkaitan tapi yang membaca memaknai berbeda, seperti tak jadi meminta kutuliskan setelah melihat mangga sedang berbunga. Tak jarang justru yang terjadi sebaliknya maunya nulis, sudah ngubek sana ngubek sini cari bahan bacaan agar kesangkut, nyatanya tak dapat sehurufpun sebagai ide untuk berpuisi.

Mohon maaf ini hanyalah gumaman saja, tak usah dimasukkan ke dalam benak, cukup dilewatkan saja.