Tinggalkan komentar

Rindu Gerimis

kerinduan manalagi yang menepikan gerimis
di antara percakapan senja tanpa derai tangis
jangan lupa kisah yang kita deras malam kamis

gerimis tipis sepanjang hari di perbukitan
mengingatkanku akan kisah masa silam
penelitianku di ladang yang nyaris tenggelam
terbenam  oleh musim hujan berkepanjangan

obyekku si phthoromea pun timbul tenggelam
nyaris kutinggalkan karena tak yakin kutemukan
hanya nekad tanpa perhitungan melebihi spekulan
yang menaksir sehamparan tanaman sayuran

phthoromea menggerogoti tanaman kentang
sumber studi yang teramat menantang
sayang harus kulakukan bukan di musim kerontang
di suatu tempat ketinggian sebuah pegunungan
yang la nina sedang mewujudkan kekuasaan
di penghujung akhir tahun sembilan puluhan

kerinduan pada gerimis di perbukitan
mengingatkan pada seseorang mengajak berdiang
di depan anglo pembakaran diisi kayu potongan
meninggalkan perempatan yang berdendang
sedang dingin tetap saja menusuk tulang

kampungmanis saat gerimis, 09022019

Iklan
4 Komentar

Buku Puisi : Telah Kutanam Benih Kerinduan

img-20190114-wa0000

masih juga tambal sulam aspal
yang tak pernah sampai pada ujung
bongkar pasang jembatan gantian ruas

belum lagi dibawah guyuran hujan
atap bus yang merembes
meningkatkan adrenalin penumpang
namun tak ada pilihan

(potongan puisi berjudul Pantura)

….

Ini hanyalah tentang diriku. Sejarahku. Catatan-catatan yang pernah kugoreskan dalam diam. Jika kemudian catatan-catatan ini bisa dikumpulkan menjadi sebuah rentetan kenangan maka syukur alhamdulillah. Mewujud sebagai sebuah kumpulan tulisan yang disebut kumpulan puisi. Ya, kusebut sejarah karena merupakan kumpulan yang lebih dari setahun. Itu pun tidak ajeg dalam rentang waktu yang pasti. Banyak sekali skipan alias hari-hari yang kosong tanpa sedikit pun wedaran berupa puisi mewujud.

Ah, tentang penafsiran sebuah puisi jika ada yang beda itu lumrah. Biarlah pembaca memanfaatkan haknya dengan sebaik-baiknya untuk melekatkan makna. Pernah saya goreskan satu puisi seribu arti. Maka biarlah yang membaca melekatkan makna menurut apa yang dipahaminya.

-penulis-

(kiriman dari penerbit)

Tinggalkan komentar

Terasing

mungkin kau tak lagi mengenaliku
berkejaran melingkari bapak ibu
saat menggaris pematang pagi hari
senandungkan kidung malam
nyanyian angin meniupkan keriangan
mula-mula mengail, membasuh luka
pagi tadi entah tak ada lagi

kau tak lagi mengerti diriku
terlempar dalam kebisuan
terjatuh dalam diam
tanpa tahu mengapa
sedang angin tetap angin timur
bulan masih ada purnama

baru kemaren kuderaskan irama
mengenang masa berkejaran
teriak seenaknya di sungai
mencebur ke lumpur senda gurau
memanggil angin, teriak macam apapun
semua entah, semua taak lagi

hanya diriku tak lagi mengerti
angin timur mungkin masih
anak sungai tetap mengalir
lumpur penuh tangkai padi
sayang, tak kukenali lagi atau
kau yang asing? Terasing?

semua tak kumengerti
sampai kapan entah keterasingan
tetap keterasingan

purwokerto kampungkedua, 23/8/99

Tinggalkan komentar

Pesan Bisu

pesan itu kini tinggal bisu
hilang tertelan berisiknya angin
tak ada yang perlu dikatakan
tak ada yang perlu disampaikan
bisu itu sendiri jawaban
sepertinya demikian

juni 2000, entah dikampung mana

Tinggalkan komentar

Kemarau

sejak matahari lagi terbakar
awan tak sanggup mengumpul
mata air pindah ke manusia
tak lagi punya air mata

3/98

2 Komentar

DI SEBUAH SENJA

sebuah senja; di beranda mengumpulkan benih-benih puisi
di tampung dalam ceruk tempurung nyamplung
yang dipetik kemaren bersama nyaring tonggeret
menyapa lambaian daun daunan yang kian basah
oleh guyuran musim yang sempat cemas terlambat

angin yang dulu menggulung daun kering
telah memintal harapan di lubuk hati petani
membelai menyerbuk bertangkai tangkai padi
menghempas rasa cemas yang sempat memanas
sebelum tonggeret, jangkrik bernyanyi nyaring

sebuah senja; telah kurangkum semua doa
merendam benih-benih puisi dalam tempurung
bersama secawan air zam-zam pemberian teman
selepas pulang berziarah dari negeri mekkah
agar besok benih yang ditanam tumbuh penuh berkah

sebuah malam disudut kampungmanis, 20:50 07/12/18

6 Komentar

Kenangan

di depan rumpun bambu yang berderak
bambu ampel yang berjasa mengganjal perut kita
kita nyalakan lagi api kenangan bersama ayah
di serambi depan menghadirkan berjuta kenangan
meski kuraba dalam samar tubuh kurus wajah cerah

teramat susah mengingat wajah
yang terekam dalam ingatan bocah
namun terasa lekat saat-saat di sawah
berlarian sepanjang lumpur seakan membajak tanah
tak ada tegur yang bikin ciut karena amarah

mari, mari kita nyalakan kembali
lalu lalang menyapa diriku dikira ayah
entah aku atau mereka yang salah
padahal terbentang jarak tak hanya sepenggalah

kampungmanis, ujian belum juga usai 14:55 4/12/2018