Senyum itu, seperti bunga-bunga yang tahu betul kapan harus mekar, membalutmu pelan-pelan. Tak datang dengan gegap riuh, tapi dengan kesabaran musim panjang yang teramat dirindukan. Di sela pembicaraan yang tak pernah benar-benar dimulai, kau membisik, “kau masih tetap setia mencintainya.” Dan senyum itu kembali bermekaran di depanku, seperti tak pernah layu.
Aku membalas dengan bisikan yang tak kalah lembut, “begitulah, kata-kata tak mau beranjak meninggalkanku.” Di antara hembusan angin, kami saling menyulam bisikan, seperti dua benih yang tak pernah tumbuh tapi tak juga mati. Kata-kata itu tetap tinggal, seperti aroma hujan yang enggan pergi dari tanah yang pernah kau injak.
Dan waktu pun berjalan pelan, seolah tak ingin mengganggu percakapan yang nyaris tak ada suara itu. Di antara detik-detik yang menua, kami tetap di sana—bukan sebagai tokoh yang harus memilih, tapi sebagai musim yang enggan beranjak. Tak ada keputusan, hanya keberadaan yang saling merawat luka, seperti dedaunan yang tetap menggantung meski angin telah lama memanggilnya untuk luruh.
Mungkin begitulah cara musim mencintai: tak menuntut tumbuh, tak memaksa pergi. Cukup tinggal, menjadi latar bagi segala yang tak sempat diucapkan. Dan kami pun tetap di sana, bukan untuk saling memiliki, tapi untuk saling menjadi tempat pulang yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.