1 Komentar

Rumah Tua Kayu Lapuk

tak pernah sejenak bisa kumengerti
rumah tua di seberang tikungan itu
kayu lapuk deraknya ingin kau semayamkan
bersama sunyi mencatatkan prasasti
riuh rayap menata pasukan begitu rapi
berbaris satu-satu tak saling mendahului
menciptakan tol dengan kecepatan yang pasti
sesekali prajurit melakukan patroli
mengamankan jalur akomodasi

berapa kali orang datang menawarkan
tak peduli begitu tinggi yang dijanjikan
tak pernah kumengerti harga apa yang dipertahankan
rumah tua kayu lapuk tambalan sana sini
bersulaman dinding kayu warna kusam
burung-burung berebutan menyusun sarang
meninggalkan biji-bijian berserakan
tumbuh menyemak merimbunkan pandangan
lumut berebut tumbuhan paku
menyerap pekatnya dinding kusam

berapa kali penolakan kau lontarkan
demi sejarah yang tak pernah kupahami
sejengkal tanah yang tak kan pindah tangan
katamu itu pantangan yang harus dipertahankan
bukan demi uang yang semakin berserakan
ada yang terpendam yang tak pernah diungkapkan
katamu biarkan tetap menjadi rahasia terpendam
tanpa harus dipindahtangankan
kasihan, justru nantinya jadi beban

kampungmanis, April 2020

Tinggalkan komentar

Portal-portal Telah Dipalangkan

portal-portal telah dipalangkan
tulisan seadanya disematkan
peringatan, pertanda jadi acuan
tak boleh seenaknya melenggang
bukan bukti daerah kekuasaan
perlindungan berlapis-lapis
menepis khawatir, bukan curiga
jika tak kenal kembali saja
ini kita saling menjaga
bukan hanya di pintu utama
tak boleh ada kerumunan
begadang biarlah hanya petugas
bergantian saling lepas penat
pakaian rapat buka gayaan
tak perlu sewot ada pemeriksaan
tak kan kehilangan kewibawaan
tidak merusak kenyamanan
genderang perang digaungkan
salinglah berjauhan meraih kemenangan
bukan saatnya basa-basi tanpa arti

3 april 2020

1 Komentar

Apa yang Perlu Kuceritakan

apa yang perlu kuceritakan
iklan-iklan televisi lebih banyak ambil peran
serbuan bertubi-tubi tak kenal belas kasihan
rayuan berbalut kemajuan digelontorkan
mengajak menghambur-hamburkan
untuk apa ditahan tak dibelanjakan
lewat tayangan-tayangan berkepanjangan

pembicaraan di ruang kelas
masihkah berbekas
tentang kebersahajaan, kesederhaan
ali-alih dianggap ketinggalan jaman
ruangan yang semakin banyak ditinggalkan
kemasan yang tak lagi menarik perhatian
mungkin aku yang tak lagi mengenali jaman

3 April 2020

Tinggalkan komentar

Lirih Memerih

gumaman imam lirih memerih
tetap harus diluruskan
ayat-ayat pendek dilafalkan
qunut nazilah diselipkan
sepakat tanpa salaman
segera beranjak pulang
basa-basi bisa kapan-kapan

2 Komentar

Sebentang Jalan yang Masih Kurawat dalam Ingatan

Mengapa kau biarkan hujan yang lincah itu mengobrak-abrik sunyi. Merapatkan pintu kayu menyerap dingin yang meninggalkan kemarau. Di ujung kampung becek tanah basah dimainkan bocah. Tertawa saling melumeri melempari lumpur tanpa resah. Sebentang jalan yang masih kurawat dalam ingatan. Prenjak yang nyinyir di depan rumah, tak mau kalah mengabarkan akan kedatangan. Kata orang-orang tua, entah bercanda mungkin demikian adanya. Sisa gerimis yang diterima para blekok di tepi kali berhamburan mencari makanan. Sebelum kembali pulang di sarang bambu duri. Rebungnya enak sekali dijadikan gulai.

Mengapa kau biarkan jendela terbuka. Angin dingin leluasa bercanda. Menusuk-nusuk ngilu merapatkan mantra. Tak ada komat-kamit lebih perih dari gigil. Tak bisa ditahan termometer bilang kedinginan. Sebentang jalan yang masih kurawat dalam ingatan. Ini bukan pegunungan. Merapi saja tegak di kejauhan. Puncaknya tak ada tetumbuhan. Guek meratapi dinginnya malam di atas pohon duwet.

April 2020

8 Komentar

Suara di Depan Rumah Hinggap di Tanaman Jati

Kau dengar gemericik di depan rumah itu? Itu bukan hujan bukan pula sungai, tak ada basah yang kita temukan. Selokan hanya berisi daun-daun kering yang lepas dari ranting. Menumpuk kapan-kapan kita bakar. Halaman rumah tetap berdebu, mudah tersibak oleh telapak kaki yang berlalu. Suara yang tak pernah kita temukan saat masih penuh rumpun bambu. Musim hujan juga musim kemarau. Kini tidak lagi kita temukan suara guek menyayat pilu. Memanggil-manggil anaknya yang belajar terbang. Nyungsep ditumpukan batang kedelai di emperan yang besoknya kita jemur.

Kau dengar gemericik di depan rumah itu? Sejak rumpun bambu berganti lembaran-lembaran lebar daun jati. Suara itu berulang pada bulan yang sama. Seperti gemericik air, seperti gerimis, seperti buah-buahan kecil jatuh berulang-ulang, begitu ritmis seperti merdunya puisi dibacakan berulang dengan nada pelan-pelan. Lamat-lamat disenandungkan.

Tahukah kau suara itu? Selalu seperti itu setiap waktu. Bukan desau angin. Kita telah akrab lirih derainya angin mengayun pohon bambu. Meliukkan pucuk bambu juga merontokkan dedaunannya di musim kering. Sesekali bajing melenting dari pucuk satu ke pucuk lain. Desau angin tak pernah betah lama-lama, seringkali berganti irama. Kadang kehilangan nada, tak ada yang bisa kita dengarkan, kadang melengking menhantui bocah di malam yang dingin. Apalagi waktu kita kecil saat musim maling. Konon jin juga ikut bermain.

Kenalilah suara itu. Suara di depan rumah yang hinggap di tanaman jati. Begitu enak dinikmati. Lembut, tak kenal waktu, meski hanya musim tertentu. Setelah tumbuh kembali sehabis gundul daunnya sama sekali. Hanya bertahan beberapa hari, daun tinggal tulang belulang. Tak lama kemudian ada yang bergelantungan. Ada yang jadi santapan. Ada yang kemudian bisa terbang. Melanjutkan kisah perjalanan.

Kenalilah, kenalilah suara itu. Benda sebesar biji-bjian, lebih kecil dari biji sawo kecik berjatuhan bergantian. Jarak waktu yang seimbang. Menerpa tanah tak bergulingan, tak ada lentingan. Meskipun bulat hitam. Memang tidak pejal. Dikeluarkan dari yang bernyawa nempel di dedaunan.

30 Maret 2020

Tinggalkan komentar

Malam ini Semakin Dingin

malam ini semakin dingin
gerimis tak bosan mempermainkan perasaan
seperti mengaduk kopi tandas
tanpa meninggalkan ampas
sebentar coklat mengental kehitaman
kau terpaku dalam sunyi yang membelenggu
menatap puisi-puisi yang kebingungan arti
menjumput sepotong singkong yang keriput
masih panas, uap mengantarkan siluet kebingungan
merenggang merapat dikedutkan angin
seperti wayang dibalik lampu berkedipan
terantuk pada cerita yang telah usang
layang-layang putus jelang malam
meninggalkan kemarau yang memecah tanah
kebingungan ditinggal mengejar bayangan
menyelinap rasa gentar was-was kehilangan
bersama siapa langkah ini menuju pulang
terduduk lunglai di pinggir tegalan

maret 2020

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Take It Upon Yourself

Wholly Vibrant Living: Mind, Body, Spirit, and Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Blog Site of Gabriele R.

Post, news, diary... All the world around me, ALL THE WORDS AROUND YOU

Katherine's Blog

In Kate's World

Trial By Fire

Poetry, Quotes, Creative Writing, Copyright ©BBYCGN

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)