4 Komentar

Musim yang Tak Mau Pergi

Senyum itu, seperti bunga-bunga yang tahu betul kapan harus mekar, membalutmu pelan-pelan. Tak datang dengan gegap riuh, tapi dengan kesabaran musim panjang yang teramat dirindukan. Di sela pembicaraan yang tak pernah benar-benar dimulai, kau membisik, “kau masih tetap setia mencintainya.” Dan senyum itu kembali bermekaran di depanku, seperti tak pernah layu.

Aku membalas dengan bisikan yang tak kalah lembut, “begitulah, kata-kata tak mau beranjak meninggalkanku.” Di antara hembusan angin, kami saling menyulam bisikan, seperti dua benih yang tak pernah tumbuh tapi tak juga mati. Kata-kata itu tetap tinggal, seperti aroma hujan yang enggan pergi dari tanah yang pernah kau injak.

Dan waktu pun berjalan pelan, seolah tak ingin mengganggu percakapan yang nyaris tak ada suara itu. Di antara detik-detik yang menua, kami tetap di sana—bukan sebagai tokoh yang harus memilih, tapi sebagai musim yang enggan beranjak. Tak ada keputusan, hanya keberadaan yang saling merawat luka, seperti dedaunan yang tetap menggantung meski angin telah lama memanggilnya untuk luruh.

Mungkin begitulah cara musim mencintai: tak menuntut tumbuh, tak memaksa pergi. Cukup tinggal, menjadi latar bagi segala yang tak sempat diucapkan. Dan kami pun tetap di sana, bukan untuk saling memiliki, tapi untuk saling menjadi tempat pulang yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.

4 Komentar

Sekotak Mimpi di Sela Pagi

Di sela pagi yang tak pernah menabur janji, ia datang membawa sekotak mimpi. Berbungkus sisa harapan yang tak sempat disampaikan, dilipat rapi dalam sulaman benang-benang kenangan yang pernah nyaris menjadi nyata. Aroma sepinya menyeruak pelan, seperti bulir-bulir embun yang enggan jatuh, menggantung di ujung daun, menunggu angin yang tak kunjung datang.

Kami menyeduhnya bersama, dalam cangkir robusta yang pekat, tanpa setitik endapan, tanpa jeda. Rasanya begitu kental, sekental rindu yang menggumpal di sudut dada, tak juga larut, tak sampai selesai. Setiap tegukan adalah lintasan waktu yang tak pernah benar-benar berlalu. Ada getar yang tertinggal di lidah, ada bayang yang menetap di benak, seperti kata-kata yang tak sempat diucapkan.

Pertemuan itu bukan temu, hanya sebuah lintasan rasa yang tak sempat dilekatkan nama. Seperti dua bayang yang bersilangan di trotoar pagi, saling menyapa tanpa suara, lalu berlalu tanpa jejak. Tapi di dalamnya, ada gema keinginan yang belum sempat tumbuh, ada bayang harapan yang masih mencari cahaya. Tak hadir untuk menetap, hanya mampir sekejap, seperti cahaya matahari yang menyelinap di sela tirai, lalu pergi sebelum sempat menyinari seluruh ruang.

Dan pagi pun menjadi ruang antara: antara yang ingin dan yang belum, antara yang pernah dan yang masih mungkin. Mimpi tak lagi sekadar angan, tapi juga luka yang belum sempat sembuh, doa yang belum sempat dilafazkan, dan tanya yang tak pernah dijawab. Aku duduk di antara aroma kopi dan gema batin, menyeduh yang tak pernah selesai.

Mungkin mimpi itu tak untuk dijalani, hanya untuk diseduh perlahan, agar kita tahu rasanya: pahit, hangat, dan sesekali manis. Seperti pagi yang tak pernah berikrar janji, tapi selalu datang membawa deretan kemungkinan.

20 Komentar

Lubang Sunyi di Perut Bumi

Di halaman-halaman yang dulu keras menolak air, kita tanamkan paralon—lubang kecil yang tak banyak bicara, tapi menyimpan harapan besar: agar hujan tak lagi menakutkan, agar tanah kembali bisa lega bernapas.

Lubang itu disebut biopori. Bentuknya silindris, sederhana, hanya sedalam satu meter, diameternya sepuluh sentimeter saja. Namun dalam diamnya, ia menjadi pintu utama bagi air untuk pulang, bagi akar untuk bernapas, bagi bumi untuk menyimpan.

Selama ini, hujan datang seperti tamu yang tak pernah diundang, mengalir di permukaan, menyeret tanah, meninggalkan genangan, menyulut banjir.

Tapi kini, lewat lubang kecil itu, kita ajak hujan berdamai. Kita beri jalan agar tak hanya lewat, tapi diberi kesempatan tinggal sejenak, meresap, menyatu dengan tanah yang dulu kering.

Biopori bukan sekadar lubang, ia adalah doa yang ditanam, agar bumi tak lagi menolak air, dan air tak lagi meluap karena penolakan.

5 Komentar

Permainan Menjelang Magrib

Anak-anak bermain riuh menawarkan gaduh,
senja menelan matahari di pelataran gaduh.
Pecahan genting ditata, bola kasti melayang,
adu cepat, aba-aba dibaca dalam bayang.

Siasat saling beradu, menang atau kalah,
permainan diulang, tak peduli lelah.
Gerak cepat, tawa pecah,
magrib menunggu di ujung langkah.

Sampai bosan menelan waktu,
anak-anak tetap bermain tanpa ragu
2 Komentar

Sajak yang Tak Pernah Kukirimkan

Cerita sajak yang tak pernah kukirimkan,
dulu kau sesekali menanyakannya.
Tak kuberitahukan—aku gagal menuliskan.
Gagal menuliskan untukmu.

Hanya kabar yang kemudian kudengar:
kau menjangkau ibukota, meninggalkan,
melepaskan keilmuan yang telah kaudapatkan.
Dan aku,
tinggal di sini,
bersama kata-kata
yang tak sempat menjadi sajak.
4 Komentar

Jejak yang Tak Dibahas

Aku sengaja menjauh,  
meninggalkan goresan kisah
di halaman-halaman tanpa tanda.
Waktu bertemu tak banyak patah kata,
Tombol papan ketik kita biarkan bicara
dengan caranya sendiri-sendiri.

Mungkin aku terbawa perasaan,
kau menyelesaikan tugas,
aku dengan pekerjaanku.
Pertemuan hanya kebetulan,
beda yang dibutuhkan,
dan aku biarkan hujan
menghapus jejaknya pelan-pelan.

Meski tak setajam ingatan
saat kau tiba-tiba bertandang,
menarik lengan kenangan
tanpa permintaan,
menjangkau waktu lampau
yang mungkin kau lupa—
kita tak pernah membahasnya
4 Komentar

Kemarau yang Tak Diam

malam yang gaduh
angin begitu riuh
ada pepohonan rubuh
di saat kemarau

barangkali tanah tak lagi percaya
pada janji langit yang tak kunjung basah
barangkali akar lelah menunggu
di antara retak dan debu

dan kita,
masih sibuk menperdebatkan statistik
sementara pohon-pohon tumbang
tanpa satu pun puisi dibacakan
7 Komentar

Senja Tanpa Kata-kata

Senja tanpa kata-kata
lewat begitu saja
angin pun tak jadi puisi

Langit menggulung warna yang tak sempat ditafsir,
sementara bayanganmu tertinggal di jendela
yang tak pernah benar-benar terbuka.

Di antara desir dan diam,
ada luka yang tak ingin disebut,
ada doa yang tak sempat dilafazkan.

Barangkali, puisi tak lahir dari kata,
mungkin dari kehilangan yang tak bisa dijelaskan.
18 Komentar

Setangkai Puisi di Ujung Sore

Sore telah beranjak,
langit menggulung warna yang tak sempat kulukis.
Di beranda sunyi, angin menyisir kenangan
tentang ibu, ziarah, tembang yang tak selesai.

Kopi mendingin di cangkir batin,
sementara kata-kata masih mencari pori-pori
untuk menyerap duka yang tak mau disebut luka.

Kita bukan angka, bukan deretan statistik.
Kita adalah napas yang menolak dilupakan,
jejak yang menolak dihapus.

Maka kutanamkan satu puisi di tanah sore,
agar esok, ketika subuh membuka jendela,
kutemukan kelopak harapan
yang tumbuh dari sunyi yang kupelihara.
4 Komentar

Tumbang oleh Keyakinan

Merkava yang jumawa,
berderak di jalan-jalan sejarah,
menggertak langit dan bumi dengan baja dan bara.
Ia percaya pada tubuhnya yang kebal,
pada mesin yang tak kenal gentar,
pada peta yang meniadakan doa.

Tapi ia tumbang.
Bukan oleh senjata yang lebih canggih,
melainkan oleh keyakinan yang tak bisa diukur.
Oleh semangat yang tak bisa dipetakan.
Oleh pejuang yang membawa tanah di dada,
dan langit di mata.

Semangat para pejuang bukan sekadar perlawanan,
ia adalah nyala yang tak padam,
ia adalah nama-nama yang tak bisa dihapus,
ia adalah langkah yang terus berjalan
meski dunia menutup mata.
Manuela Di Dalmazi Poetry

𝙇𝙖 𝙫𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖̀ 𝙫𝙞 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙚𝙧𝙖̀ 𝙡𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞 (𝙂𝙫 8,32)

SarahBeauty

Trouver plein de conseille beauté, mode, tendance.

True Love for Sale

by Peach Berman

trozos de mazapán.

cartas o historias pequeñas de amor tan dulces y desmoronables como un mazapán.

HorseAddict

The world is best viewed through the ears of a horse.

Tulisan Lina

Meramu, Menulis, lalu dikenang 🌻

DoRee MelNic

Grief Out Loud. Art. And Life.

MYSELF

AS HUMILDES OPINIÕES DE UMA MULHER DE CORAGEM QUE DIZ SIM À VIDA!

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Integrating the Spirals

Integrating the spirals (holism, art, music, and writing) for peace, ease, freedom, and alignment of mind, body, spirit, and soul.

Gabriele Romano

Personal Blog

Katherine's Blog

In Kate's World

Creative Expression: Tamara Yancosky

Pray to God, through Jesus’ Name, to provide me with serenades of joy to escort long-suffering souls adrift turbulent seas into peaceful waters. Jesus Christ: The Way, The Truth & The Life

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai