Setelah Quick Count maka selesai?

Hasil pemilu baru saja sampai tahap penghitungan di KPUD Kabupaen, tapi aksi para tokoh partai sudah melampaui pengumuman resmi dari KPU Pusat. Hal yang tidak terjadi pada pemilu periode sebelumnya. Jika pemilu 2009 SBY dengan tegas menyatakan bahwa semua dimohon menunggu hasil resmi dari KPU tidak terburu-buru dengan angka-angka yang disodorkan oleh lembaga survey, justru saat ini yang dengan gamblang memberikan ucapan selamat kepada tiga kontestan yang menurut para pemilik survey berada di atas yang lainnya, termasuk milik SBY.
Sebagai orang yang awam politik apalagi masalah hukum sejujurnya saya merasa ada sesuatu yang aneh. Beda banget dengan pemilu-pemilu sebelumnya.
Bicara tentang survey saya juga makin tak mengerti. Bagaimana proses survey itu dilakukan, berapa persen sampel yang diambil dari total populasi, sampai sepuluh persenkah? Semua lembaga survey yang mengumumkan hanya menjelaskan angka-angka hasil, sedangkan prosesnya gelap. Lebih hebat lagi berani mematok erornya sangat kecil hanya berkisar 1 – 2 %, luar biasa. Bagaimana menjelaskan data dari berbagai daerah yang sangat heterogen ini bisa dinilai sebagai data yang homogen secara statistic.
Menengok survey yang dilakukan sebelum pemilu bahkan lebih mengenaskan lagi. Bahwa konon dari hasil survey itu partai-partai bernuansa agama akan segera menemukan kuburannya, tapi kok kata quick count malah melejit, meskipun bagi saya ya itu tadi masih belum bisa mempercayai begitu saja. Masih menunggu hasil real count KPU.
Ah, sudahlah anggap saja ini hanyalah igauan orang bingung yang tak juga memahami mengapa ia bingung

Leave a comment »

Jangan bawa-bawa agama ke dalam politik

Pekan ini adalah pecan terakhir masa kampanye. Bukan berarti diriku sedang berkampanye, hanya sedikit merenung saja. Dari pemilu ke pemilu berikutnya nyaris selalu ada yang memunculkan isu untuk tidak membawa-bawa agama ke dalam politik. Mohon maaf, pandanganku hanyalah dari kacamata diriku seorang muslim, untuk yang beragama lain sekali lagi aku mohon maaf, karena memang tak ada pengetahuan sedikitpun tentang itu sehingga tak mungkin kumenekadkan diri membahas yang sama sekali tak kuketahui.

Entah apa alasannya mereka yang memunculkan statemen itu. Bisa jadi memang tak begitu banyak memahami agamanya, bisa pula khawatir tersaingi oleh mereka yang disebut-sebut membawa-bawa agama ke dalam politik.

Coba kita ambil contoh sedikit saja. Kita lihat partai matahari menisbahkan sebagai partainya ormas yang berlambangkan nyaris sama, jelas itu ormas agama. Partai bumi apalagi terang-terangan menyebutkan bahwa partai ini lahir dari ormas yang berlambangkan bumi juga, dan sangat jelas ormas tersebut adalah ormas agama.

Trus partai kakbah, jangankan sebutannya, gambarnya saja sangat jelas menyiratkan lambang agama. Satu-satunya arah untuk bersujud, oleh seluruh bangsa bukan hanya bangsa kita. Ditambah lagi dengan slogannya rumah besar bagi umat.

Partai bintang mersi pun pernah menyebut dirinya dengan partai nasionalis religius. Kabarnya si partai tanduk pun memiliki BMI, yang merupan organ baru untuk menggaet suara umat Islam. Ah entahlah, makin pusing.

Bagiku pribadi, memang agama tak perlu dibawa-bawa, wong sudah lekat dalam diri kok. Kuyakini betul bahwa segala apa yang kita lakukan ini tidak bisa lepas dari yang namanya agama. Urusan di rumah, di jalan, di tempat kerja, semuanya tak bisa melepaskan agama. Jadi urusan agama tidak hanya sebatas di masjid, bulan ramadhan, saat pernikahan dan kematian saja. Entahlah kalau igauanku ini terasa ngawurnya.

Comments (7) »

Golput

nggaklah
aku memilih untuk tetap memilih
tak usah kau bujuk untuk tidak memilih
syukur-syukur kau ikut memilih

aku tak butuh janji
apalagi bujuk rayu
semacam kembali ke masa lalu

aku tak amnesia
kiprah yang yang lewat
tercatat kuat dalam benak
meski iklan kini berbeda

(hanyalah igauan anak bawang yang sok sibuk, sehingga lama tak sempat posting)

Comments (4) »

Orang-Orang Proyek (Re Post)

Orang-orang Proyek

Suara kepala sekolah:

kalau kami melihat buku tamu di sekolah-sekolah penerima DAK,  disitu berderet panjang nama-nama tamu yang tak diundang yang tentu saja membuat stress para kepsek. Ini merupakan gejala bola panas

(Radar Cirebon hal. 19, 27 Nopember 2008).

Sebuah bangunan sekolah belum genap satu tahun dibangun telah roboh bagian atapnya. Kalau itu karena bencana alam mungkin tak jadi soal. Gempa bumi atau tanah longsor misalnya, siapapun tidak akan ada yang menaruh prasangka. Tapi yang satu ini tidak ada hujan tidak ada petir tidak ada angin topan tiba-tiba gedung sekolah itu roboh. Ada apa dibalik peristiwa ini?

Tokoh LSM lantang mengatakan ada pihak-pihak Baca entri selengkapnya »

Comments (21) »

Apapun Panggilannya, Dia Tetaplah Seorang Ibu

Apapun kita memanggilnya, dia tetaplah seorang ibu. Tiap daerah memiliki panggilan yang khas untuk ibu mereka. Bahkan tiap keluarga juga pun tak jarang memiliki kesepatan bersama bagaimana harus memanggil seorang ibu. Panggilan itu bisa saja bunda, bundo, mungkin pula mama, emak, mam, mother. Orang jawa biasa memanggil ibunya dengan sebutan simbok atau biyung. Orang sunda tak jarang menyebutnya dengan panggilan mamah. Kini para aktivis dakwah tak sedikit yang membiasakan diri dalam keluarganya memanggil seorang ibu dengan sebutan umi.

Apapun itu, bagaimana kita menyebutnya tidak serta merta menunjukkan strata sosial seorang ibu di masyarakat. Dipanggil simbok bukan berarti lebih rendah derajatnya dibandingkan yang dipanggil mamah ataupun bunda. Tidak pula yang dipanggil umi sebagai jaminan lebih mulia dari yang lainnya. Semua panggilan itu tetaplah mengacu pada sosok yang satu yaitu, ibu. Panggilan itu lebih banyak sebagai wujud kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Juga merupakan bentuk kesepakatan yang berlaku di dalam lingkup keluarga. Sebagaimana halnya juga sebutan ibu guru yang lazim di sekolah-sekolah, maka disebutlah ustadzah ketika seorang ibu guru menjadi tenaga pendidik di sebuah pesantren.

Panggilan itu adalah sebuah tanda. Simbol yang disepakati bersama. Bagaimana agar kita memposisikan seorang ibu pada posisi yang semestinya. Bukan sebuah simbol yang meletakkan julukan yang tak semestinya. Bukan pula untuk merendahkan martabat seseorang.

Apapun kita memanggilnya seorang ibu tetaplah ibu. Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, tentu berharap agar anak-anaknya kelak menjadi anak yang tumbuh dewasa, mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Ibu merupakan tempat pertama kali seorang anak belajar. Dari tidak mengenal apa-apa menjadi banyak pengenalan terhadap keadaan sekitar. Dari tak bisa apa-apa, selain hanya menangis kemudian tumbuh mampu berjalan, berbicara dengan bahasa yang dikenalkan oleh ibu. Maka bagaimana ibu mengenalkan anak terhadap segala sesuatu merupakan landasan yang sangat penting bagi perkembangan anak pada tahap selanjutnya. Penanaman nilai-nilai sangat berarti ditanamkan sejak dini dari orang tua, terutama dari ibu. Agar di kehidupannya yang akan datang tidak salah arah.

Pendidikan anak oleh ibu tidak terputus hanya karena anak telah masuk ke sekolah. Pendidikan seorang ibu tetap sangat penting dalam mendampingi, meneladani dan mengarahkan anak-anaknya. Sekolah pada umumnya hanyalah memerlukan waktu sepertiga dari total waktu yang dimiliki anak tiap harinya. Jadi, tak sepantasnya seorang ibu menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya hanya di sekolah, karena waktunya lebih banyak berada di rumah. Hasil pendidikan yang baik akan diperoleh jika terjadi harmonisasi antara sekolah, orang tua dan lingkungan. Maka peran orang tua (ibu) sangat menentukan bagi keberhasilan pendidikan anak-anaknya.

Bisa dibandingkan anak yang tinggal di pondok pesantren yang sepenuhnya orang tua pasrah akan apapun yang terjadi dengan anaknya dengan anak yang memang dipersiapkan secara matang untuk mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu, yang dipersiapkan akan lebih matang dan lebih siap beradaptasi dengan lingkungan baru, bahkan sanggup mewarnai teman-temannya dengan kebaikan. Kebiasaan positif yang telah ditanamkan oleh ibunya dapat ditularkan kepada temannya. Sebaliknya, anak yang dititipkan begitu saja ke pesantren tidak memiliki tujuan yang pasti. Anak tanpa bekal, sehingga yang diperoleh pun tidak akan semaksimal anak-anak yang telah dipersiapkan dengan matang.

Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang tidak sembarangan kepada para ibu, sampai-sampai disebutkan bahwa “surga berada di telapak kaki ibu”. Seseorang yang senantiasa menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina di akherat kelak.

Dalam kesempatan lain Rasulullah menjelaskan bahwa kewajiban seorang anak terhadap ibu dalam berbakti tiga kali lebih dibandingkan kepada seorang ayah. Rasul menyebutkannya sampai tiga kali kewajiban berbakti seorang anak baru yang keempatnya kepada ayahnya. Bahkan kebaikan orang tua terutama seorang ibu tak kan pernah terbalaskan oleh kebaikan yang dilakukan oleh seorang anak. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ketika seorang pemuda yang telah melayani segala kebutuhan ibunya, sampai menggendongnya kemana-mana, menyuapi makannya. Pada suatu ketika menanyakan kepada Nabi apakah yang telah dilakukannya itu bisa menggantikan apa yang telah ibu berikan kepada anaknya. Rasul menjawabnya sedikit pun tidak dapat menggantikan. Apa yang telah dilakukan merupakan kebaikan yang semoga akan menambahkan timbangan amal di akherat kelak.

Jadi, kewajiban kita kepada orang bukanlah membayar apa yang telah diberikan oleh orang tua. Kewajiban kita adalah berbakti kepada orang tua, menjaga agar hatinya tetap tenang, memperhatikan kebutuhannya agar tidak resah.

(Bahan dituliskan untuk majalah Husnul Khotimah)

Comments (14) »

menerjang kelu

menamatkanmu terhadang kelu
bukan atas nama tak mampu
tak lagi seperti dulu
menderaskanmu sembarang waktu

atas nama ini dan itu
kadang dilirik pun tidak
tergeletak di rak
terselip dalam deretan kisah
mahabarata, Ramayana,
senopati pamungkas,
dan setumpuk naskah berserak

menelisikmu kembali
terseok-seok mengais asa
tersaruk kerikil dan duri perjalanan
tetap berharap sempat
menamatkanmu tanpa kelu

(puisi ini kutuliskan untuk menyemangati diri agar bisa mengikuti jejak mereka yang sudah istiqomah dengan ODOJ)

Comments (13) »

Oleh Sepotong Koran

Entah tahun berapa tak lagi kutemukan dalam memoriku. Darimana pula kudapatkan juga tak ada ingatan yang bisa dilacak. Hanya saja selembar pun tak utuh telah membuatku bermimpi jauh mengawang. Bahkan namanyapun tak ingat persis apakah yang terbit pagi ataukah siang, yang jelas asalnya dari Semarang.

Kuulang dan ulang lagi membacanya. Ada orang kampung, kuliahpun tak selesai. Nama Kampung itu Tinggarjaya. Belum pernah kudengar orang sekampungku menyebutnya. Namun entah hati ini tergetar, pelan-pelan menyelinap mengimpikan ingin seperti orang dari kampung Tinggarjaya itu. Seorang pemuda yang out of the box istilah jaman sekarang. Bahkan sangat berani menampilkan diri dipublik dengan model yang sama sekali beda.

Tahukah sobat, siapakah pemuda itu namanya?

Untuk saat ini mungkin sudah sangat banyak yang mengenalnya. Namun saat itu jangan diriku, guru Bahasa Indonesia ku pun jika kutanya kemungkinan besar tidak bisa menjawabnya. Siapakah Ahmad Tohari itu. Ya dialah pemuda yang disebut-sebut dalam sobekan Koran itu. Masih menurut Koran tersebut, Ahmad Tohari telah menggegerkan dunia tulis menulis dengan keberaniannya meluncurkan Ronggeng Dukuh Paruk.

Semakin bergetar hati ini. Apalagi mengingat pernah kudapati pelajaran sastra di sekolah, tokoh-tokoh yang banyak menyelusup ke dalam hatiku. Masing-masing berbisik lembut, membuai menajamkan mimpi. Jadilah seperti diriku, sang pengembara kata, sang pengelana huruf.

Ah, aku suka mantra-mantranya Sutardji. Jatuh cinta pada dobrakan tradisi ala Chairil. Terpesona pada diksi mantap mendayu-dayu milik Amir Hamzah. Tak bisa berkata apa-apa mendengar Bimbo mendendangkan syahdunya syair buah karya Taufiq Ismail.

Sobat. Aku harus sadar diri. Bangun dari mimpi. Apalah mungkin diri ini yang anak kampong, bergulat dengan lumpur, mencari rumput bisa mengawang seperti mereka. Berkelana dengan kata-kata.

Bukankah Ronggeng Dukuh Paruk itu juga dari kampung?

Okelah kalau begitu. Tetapi bagaimana aku harus meraih mimpi-mimpi itu. Angka-angka eksakku lebih melesat dibanding yang lain. Bahkan yang mengerikan lagi, pelajaran seni, kalau praktek selalu tak pernah selesai. Guruku paling sebel jika saya praktek menyanyi. Malah ngomel-ngomel nggak karuan. Ah, payah sudah tahu nggak bisa dipaksa juga, diomeli lagi.

Trus bagaimana mimpi-mimpi ini.

Yakinlah, jika mau berusaha pasti ada jalan.

Dengan diam-diam tetap kupupuk mimpi itu. Tak berani kunyatakan pada siapapun. Dari pada jadi bahan tertawaan.

Betul kan jalan itu ada. Tahun 93 aku diterima di PTN, se kabupaten dengan kampung Tinggarjaya. Tinggal selangkah lagi untuk meraih mimpi. Bisa menimba ilmu langsung pada ahlinya. Bisa bertanya bagaimana bermain dengan kata-kata.

Eitt, nanti dulu. Ini kuliah tidak main-main. Biologi bukan kuliah yang bisa dibagi dengan hobi sambilan. Tuh buktinya, akhir semester malah menderet rantai karbon. Semakin senut-senut bukan. Ngapain mikir bercanda dengan kata-kata. Untuk apa memupuk mimpi seperti Sutarji. Memangnya mantra bisa bikin kaya.

Ah, pusing aku. Biarlah. Wahai mimpi pergilah sana. Jangan ganggu aku. Biarkan kuselesaikan dulu urusan hidupku ini. Berkutat dengan ilmu-ilmu tentang makhluk hidup sudah cukup kliyengan. Tak usahlah menambah beban. Biarkan takdir yang akan menentukan.

Tahun 2000, usai sudah kliyengannya dengan mendapat predikat sarjana. Langkah mantap menatap masa depan. Tapi sebentar, aku mau jalan-jalan ke mal, liat-liat sajalah.

Apa yang kutemukan sobat di sana?

Mimpiku nyantol disana. Lelaki Tinggarjaya itu menyelinap kembali. Chairil Anwar tersenyum dengan rokoknya yang mengepul. Sutarji melambai senyum dengan tuak dan mantranya. Ohoooi, indahnya dunia kata-kata. Aku jatuh cinta kembali (silahkah dilacak kembali Aku Memang Cinta).

Baiklah, saatnya kubuktikan bahwa ini bukan lagi mimpi. Ini sungguh nyata. Kugoreskan kata-kata pada beberapa lembar kertas dan segera kukirimkan ke media massa. Aha, mantap sekali bung. Tak sampai sepekan, tepat di hari minggu kulongok Koran, ada namaku di sana. Senyumku saat itu sulit kulukiskan dengan kata-kata. Mimpi puluhan tahun kini telah di depan mata.

Mimpiku makin jelas mewujud. Pelan-pelan kutekuni dunia kata. Menyelam makin dalam. Menghirup aroma segarnya.

Ada kabar orang Jakarta membuat kelompok pecinta kata-kata. Maka segeralah aku bergabung bersamanya. Ada kesempatan mengundang HTR ke tempatku. Tak lama kemudian kenal dengan orang pensiunan pertamina, ternyata sahabat dekatnya Taufiq Ismail. Atas jasa beliaulah aku dipertemukan dengan Taufiq Ismail. Aku diminta membuat acara di rumahnya dengan mengundang 200 orang. Beliau yang membiayai sepenuhnya kedatangan Taufiq Ismail.

Kuagendakan sungkem langsung ke desa Tinggarjaya. Aku disambut gembira, seperti anak yang sangat lama tidak pulang. Kami ngobrol banyak tentang dunia kata-kata.

Dunia kata-kata ternyata bukan sekedar mimpi, tapi bisa kuraih meski baru awalnya. Setidaknya beberapa media massa sempat kucicipi. Telah kulahirkan tiga kesayangan: Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf, Doa dan Fatamorgana serta Balada Seorang Lengger. Meskipun hanya satu yang sepenuhnya milikku. Sedang yang pertama ada 15 orang sedang yang ketiga oleh 19 orang.

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Kolaborasi : Apa Impianmu?

giveaway-kolaborasi-banner-ii

Comments (24) »