2 Komentar

Di Perpustakaan

Bangku itu selalu kutuju
Paling sudut yang sering kumau
Meramu rindu tak mau diganggu
Di antara tumpukan kisah masa lalu
Asalkan yang kucari bisa bertemu
Inilah kisah waktu SMU

Biarlah ilmu hitung yang bikin merenung
Masuknya sambung menyambung
Lebih dari enam jam jika kuhitung
Tentang sudut, garis lurus, garis melengkung
Deret ukur, deret redoks, juga deret hitung
Meski kadang hatiku terbang melambung
Terbius angka-angka yang sangat mendukung
Tak tahan lahir senyum melengkung
Kutinggal dulu ke sini meski tercenung
Ilmu hayatlah yang paling aku bingung
Pada istilah-istilah yang aku terkungkung
Diingat-ingatpun kurang nyambung
Semakin tambah bingung

Di perpustakaan sekolah
Saat begitu jengah
Titik kulminasi resah
Ujian akhir tinggal sepenggalah
Merayu-rayu setumpuk majalah
Kupilih selalu sajak dan kisah
Di bangku yang selalu ramah

7 Komentar

1998

Kulihat televisi setiap hari
Di mana-mana demonstrasi
Di kota-kota besar demonstrasi
Di kota kecil juga ikut demonstrasi
Ibukota didominasi
Gedung DPR/MPR diduduki
Dikepung berhari-hari
Terutama para mahasiswa mahasiswi
Kabarnya ada yang tertembak mati
Mereka katakan korban di Trisakti
Kemudian hari digelari pahlawan reformasi

Masih juga kata televisi
Makin ngeri pada kerusuhan mei
Pembakaran entah siapa yang memulai
Penjarahan yang katanya bertubi-tubi
Tak sedikit yang lari ke luar negeri
Langkah mencari perlindungan diri
Pusat perbelanjaan banyak merugi
Siapa pula yang meratapi

Dua puluh mei
Di kotaku sendiri
Akupun ikut demonstrasi
Sebentar lupakan skripsi
Penghitungan ulat bisa nanti
Sesuai jadwal yang dimodifikasi
Kuliah jadi libur hari ini
Kadang duduk kadang berdiri
Sembari santai mendengarkan orasi
Tuntutan atas nama anak negeri
Ada seorang bapak pakai baju korpri
Sendirian tampilnya begitu berani
Yang lain tak ada pegawai negri
Muncul dengan wujud jatidiri
Apalagi ke depan ikut orasi

Bapak berbaju korpri yang kemudian hari kukenal sebagai seorang penyair. Sempat mengundangku menghadiri peluncuran puisi: Kemarau dalam sekumpulan sajak.

2 Komentar

Antologi bersama

Antologi puisi yang kedelapan akan segera naik cetak, Bersama Sahabat Rose Book

KATA PENGANTAR PENERBIT V
ESSAI MEMBACA ZAMAN VI

Continue Reading »

5 Komentar

Iklan Berlayar

Iklan berlayar

Iklan-iklan berlayar tenang
Menyambangi pilar-pilar memori
Merayu sampai ke bilik keinginan
Membisikkan janji kenyamanan
Tak lupa mengisikkan isarat
Gengsi perlu dipertahankan
Jika perlu dinaikkan

Iklan-iklan melebarkan layar
Tak hanya radio, tv dan koran
Perempatan jalan tak ketinggalan
Dekat lampu lalu lintas berpendaran
Merayu para penunggu lampu yang lugu
Padahal buru-buru mengejar waktu

Iklan-iklan semakin pintar
Masuk ke gawai yang belum tentu santai
Bisa juga masuk sarat agar yang dituju sampai

Iklan yang minim keberadaan
Di pasar tradisional justru banyak pedagang
Seenaknya menghamparkan dagangan
Tawar menawar adalah kebiasaan
Tanpa pernah kehilangan pelanggan

5 Komentar

Di Pinggir Perkampungan

Di pinggir perkampungan yang belum hujan
Tanah rekah-rekah pecah tanpa basah
Pagiku yang sepi, beranjak sendiri
Bus tiga perempat tidak lagi lewat
Kabarnya lenyap digerogoti karat
Mungkin juga kehilangan peminat
Roda dua selagi mudah didapat

Kemarau yang menyedot kerongkongan
Cemara malu-malu kecoklatan
Akasia melepaskan beberapa dahan
Cicit burung tertahan, kelaparan
Tak dapat menagih ulat dan biji-bijian
Gagak hitam berkaok tak karuan
Kemana-mana tak berkawan

Di pinggir perkampungan yang belum hujan
Hamparan luas tanah seperti gersang
Sisa-sisa rumputan tak sanggup bergoyang
Serasah sampah yang sesekali terbang
Kemudian jatuh dihempaskan
Oleh permainan angin yang menggemaskan
Katanya hujan akan segera datang

14/11/2019

4 Komentar

Menyelami Rahasia

Rendaman kata yang menanti ranum
Mengeram di lubukku menunggu ramu
Menyambut rindu yang bertalu-talu
Lama di rantau memendam rindu
Mengundang segala kegelisahan
Menumpuk resah kian terasah
Makin pasrah

Setiap waktu adalah menunggu
Menyelami rahasia yang tersembunyi
Menguak takdir yang tak mungkin kembali
Mereka-reka rencana tentang bahagia
Mengobati rindu, membalut luka,
Membayar lunas gelisah
Memperjalankan pasrah
Melipat resah

Tak lupa
Melantunkan kalimat doa
Doa-doa keselamatan
Keselamatan diri
Keselamatan keluarga
Keselamatan sahabat
Keselamatan negara
Keselamatan…

Aku tak mau ranumnya kata
Tumbuh menjadi kedustaan
Mengeramkan kebencian
Janganlah menerbitkan
Hidup hampa

14/11/2019

5 Komentar

Seseorang Memanggilku

Temaram yang bergeser dalam geliatnya
Meninggalkan gelas penuh canda di pos ronda
Cahaya bulan yang tak juga sampai separohnya
Sejak sore tak ada awan yang bertandang
Ada sesekali kendaraan lalu lalang
Penuh muatan dibawa pulang

Pena tua yang telah raib entah kemana
Semakin temaram belum juga kutemukan
Takutnya lupa sajak yang akan kutuliskan
Masih berseliweran minta tuntutan
Segera loncatan dalam kertas tulisan
Sayangnya pena tua tak kutemukan
Terakhir tak ada dalam memori catatan

Terbenam dalam rutuk kebingungan
Dremimil entah apa yang kuucapkan
Mencoba mengasah kembali ingatan
Sayup-sayup kudengar pembicaraan
Hasil pemilihan tanpa pertentangan
Kepala desa yang diharapkan
Jagoannya ternyata yang menang

Terduduk di sudut pos dengan lunglai
Merangkai puisi yang tak sampai
Sisa kantuk masih juga membelai
Berbalut sarung agar tak kedinginan
Teman peronda masih cekikikan
Saling lempar obrolan guyonan
Juga bangga jagonya menang
Tetiba sayup-sayup dari kejauhan
Seseorang memanggilku pulang

10/11/2019

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Take It Upon Yourself

Healthy Living: Mind, Body, Spirit, and Soul

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

Gabriele ROMANO 📎 bLOG

Post, news, diary... All the world around me, ALL THE WORDS AROUND YOU

Katherine's Blog

In Kate's World

Survival Through Faith

Creative Writing, Poetry, Short Stories, Quotes

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)