Lebah antara Teori Darwin dan Realitasnya

Di dalam The Origin of Species pada bagian Difficulties on Theory Darwin mengemukakan salah satu kesulitannya dalam menjabarkan teorinya tentang insting pada lebah:

Dapatkah insting diperoleh melalui seleksi alam? Apa dapat kita katakan mengenai insting yang telah mendorong lebah untuk membuat sarang, dan yang secara praktis telah mengantisipasi penemuan para ahli matematika yang berbobot?

Darwin beranggapan bahwa insting, walau dalam waktu yang sangat panjang dan hanya memberi sedikit perbedaan hasil, dapat berubah karena menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Ia memberikan satu contoh mengenai sangat kecilnya perbedaan struktur sel atau ruangan pada sarang lebah madu (hive-bee) dengan sarang Melipona Meksiko, lebah yang dianggap memiliki struktur intermediet antara hive-bee dengan humble-bee walau lebih mirip dengan humble-bee. Tentunya insting tersebut diperoleh dengan tahapan dan proses yang sangat panjang.

Jauh beberapa abad sebelum Darwin lahir, di jazirah arab pengetahuan tentang bagaimana lebah membuat sarang telah disampaikan oleh seorang lelaki yang dijuluki al amin. Beliau menyampaikan kepada umatnya bahwa kemampuan lebah dalam membuat sarang yang sangat rumit itu bukanlah melalui proses yang sangat panjang, tak perlu menunggu waktu bilangan generasi berabad-abad. Bahkan jauh lebih cepat dari belajarnya manusia untuk mampu berjalan.

Beliau menyampaikan pengetahuan tersebut bukanlah karena telah mempelajari filsafat yang berkembang di Yunani atau Persia, akan tetapi merupakan wahyu yang berasal dari Allah swt.

Lebah memiliki kemampuan membuat sarang diperoleh secara seketika. Tanpa perlu belajar sedikit demi sedikit, tanpa perlu melalui proses penyeleksian organ tubuh secara rumit.

Semuanya terjadi karena kehendak Allah swt. Allah telah mengilhamkan kepada lebah untuk membuat sarang di tempat-tempat yang telah ditentukan (QS An Nahl: 68). Ilham yang sekaligus langsung dilaksanakan oleh lebah yang saat ini disebut dengan istilah insting. Adapun tempat-tempat tersebut jika kita runut sampai saat sekarangpun masih sangat relevan. Tidak satupun yang hilang, padahal waktu telah lewat belasan abad yang lalu. Saat ini kita masih bisa menemukan sarang lebah di gunung, di pepohonan bahkan semakin banyak tempat-tempat yang disediakan oleh manusia, tetap sama sebagaimana ayat Al Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. Sangat bertolak belakang dengan asumsi Darwin yang memerlukan waktu dengan tahapan dan proses yang sangat panjang hingga bilangan generasi.

Apakah Darwin juga menjelaskan bagaimana lebah mulai menyukai nektar dari bunga yang bermahkotakan warna-warni? Entahlah. Yang jelas di dalam surat An Nahl menegaskan bahwa lebah diperintahkan untuk memanfaatkan berbagai jenis tanaman buah-buahan sebagai sumber energinya, tanpa perlu melakukan proses pilih memilih terhadap jenis tumbuhan tertentu. Hal ini sejalan dengan kenyataan sekarang bahwa banyak sekali berbagai macam jenis bunga tumbuhan yang menjadi makanan bagi lebah.

Lebih tegas lagi di ayat berikutnya (69) menjelaskan bahwa dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Warna madu ternyata ditentukan oleh jenis tanaman utama yang menjadi sumber pangannya. Jenis tanaman yang dominan tersebut bukan berdasarkan perilaku memilih pada lebah akan tetapi merupakan jenis tanaman yang dominan tumbuh di sekitar lebah itu tinggal di sarangnya.

Penggunaan madu oleh manusia sudah dikenal sejak 7000 SM di Spanyol dan Afrika dengan bukti adanya gambar orang mengumpulkan madu dari retakan batu dan pohon sementara lebah mengitari mereka. Tahun 3000 SM Mesir kuno telah memanfaatkan madu secara luas dalam keidupan mereka, bahkan menghargai madu dengan harga yang sangat mahal. Sejarah pemanfaatan madu ini sekaligus mempertegas apa-apa yang disampaikan dalam Qs An Nahl ayat 68 dan 69, tentang tempat tinggal lebah dan manfaatnya bagi manusia.

Lebah mengumpulkan nektar dalam jumlah yang sangat banyak melebihi kebutuhannya sendiri. Lebah mencampur nektar dengan cairan khusus yang dikeluarkan dari dalam tubuhnya yang kemudian membentuk madu.

Pertanyaan yang sangat mungkin muncul pada benak kita adalah: mengapa lebah tidak menghentikan pembuatan dalam jumlah berlebih ini, yang tampaknya hanya membuang-buang waktu dan tenaga? Jawaban untuk pertanyaan ini tersembunyi dalam kata “wahyu [ilham]” yang telah diberikan kepada lebah, seperti disebutkan dalam ayat tadi.

Lebah menghasilkan madu bukan hanya untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia. Sebagaimana makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia. Sebagaimana Al Quran menjelaskan dari dalam perut lebah itu keluar cairan (madu) yang menyembuhkan bagi manusia.

Lebah madu hidup sebagai koloni (berkelompok) dalam sarang yang mereka bangun dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Dalam tiap sarang terdapat ribuan kantung berbentuk heksagonal atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan madu.

Pernahkah terpikirkan oleh kita, mengapa lebah membuat kantung-kantung dengan bentuk heksagonal bukan bentuk yang lainnya, pentagonal misalnya?

Para ahli matematika mencari jawaban atas pertanyaan ini dengan jalan melakukan perhitungan yang panjang. Diperoleh kesimpulan bahwa cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat edinding berbentuk heksagonal.

Coba kita bandingkan dengan bentuk-bentuk bangun ruang yang lain. Andaikan lebah membangun kantung-kantung penyimpan tersebut dalam bentuk tabung, atau seperti prisma segitiga, maka akan menyisakan celah kosong di antara kantung yang satu dengan yang lainnya, dan hanya sedikit madu yang bisa disimpan di dalamnya. Kantung madu berbentuk segitiga atau persegi bisa saja dibuat tanpa meninggalkan celah kosong.

Para ahli matematika menyadari satu hal terpenting. Dari semua bangun geometris tersebut, heksagonal lah yang memiliki keliling paling kecil. Karena alasan inilah, walaupun bentuk yang lainnya mampu menutupi luasan areal yang sama, ternyata material yang diperlukan untuk membangun bentuk heksagonal lebih sedikit dibandingkan dengan persegi atau segitiga. Singkatnya, suatu kantung heksagonal adalah bentuk terbaik untuk memperoleh kapasitas simpan terbesar, dengan bahan baku lilin dalam jumlah paling sedikit.

Bagaimana para evolusionis menjelaskan kemampuan lebah yang sangat akurat ini? Proses perubahan perlahan dan sangat panjang yang seperti apa? Adakah bentuk-bentuk lain yang pernah dibuat oleh lebah sebagai bentuk uji coba? Jika para evolusionis itu benar tentunya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

(telah dimuat di majalah Husnul Khotimah)

Comments (2) »

Inginku

ingin kugoreksan kembali sederet rindu
yang pernah kuimpikan, kuinginkan
sejak masih kanak, saat belajar kata
begitu menggebu, menggelorakan jiwa

rasa itu
entah masihkah ada
di sela kebisingan kata
di antara rumus-rumus kimia
matematika, fisika,

ah,
kadang sayup-sayup terasa
menggelitik sejumput rindu
yang mungkin tersisa

masihkah tersisa?
: entahlah

Comments (3) »

Memaknai Rutinitas

Hidup ini merupakan sekumpulan rutinitas. Enam puluh detik berlalu menjadi satu menit akan berulang kembali hingga genap menjadi satu jam, yang kemudian menjadi duapuluh empat jam lazim kita sebut dengan satu hari. Angka tersebut akan kembali dimulai dari satu, dua, tiga, dan seterusnya sampai ke angka duapuluh empat lagi. Hari berganti hari dari ahad, senin, sampai sabtu kemudian kembali lagi ke hari ahad. Penanggalanpun demikian juga, tanggal satu, dua, tiga hingga tigapuluh atau tigapuluh satu kemudian kembali lagi ke penanggalan hari pertama, dan seterusnya hanya diseling beda ketika bulan Pebruari yang duapuluh delapan atau empat tahun sekali menjadi duapuluh sembilan sebagai tahun kabisat. Bermula dari bulan Januari berganti Pebruari, Maret hingga berakhir pada bulan Desember Baca entri selengkapnya »

Comments (2) »

Apapun Panggilannya, Dia Tetaplah Seorang Ibu (Repost)

Momentum hari ibu kali ini, diawali dengan kegiatan berakhirnya kegiatan pembelajaran semester ganjil yang ditandai dengan telah dibagikannya LHB (Laporan Hasil Belajar), yang untuk kelas tujuh membuat saya harus benyak begadang. Jadi mohon maaf kalau momentum hari ibu kali ini hanya saya tampilan tulisan usang alias repost tentang ibu

sebuah tulisan yang pernah dimuat di majalah pesantren:

Apapun kita memanggilnya, dia tetaplah seorang ibu. Tiap daerah memiliki panggilan yang khas untuk ibu mereka. Bahkan tiap keluarga juga pun tak jarang memiliki kesepatan bersama bagaimana harus memanggil seorang ibu. Panggilan itu bisa saja bunda, bundo, mungkin pula mama, emak, mam, mother. Orang jawa biasa memanggil ibunya dengan sebutan simbok atau biyung. Orang sunda tak jarang menyebutnya dengan panggilan mamah. Kini para aktivis dakwah tak sedikit yang membiasakan diri dalam keluarganya memanggil seorang ibu dengan sebutan umi.

Apapun itu, bagaimana kita menyebutnya tidak serta merta menunjukkan strata sosial seorang ibu di masyarakat. Dipanggil simbok bukan berarti lebih rendah derajatnya dibandingkan yang dipanggil mamah ataupun bunda. Tidak pula yang dipanggil umi sebagai jaminan lebih mulia dari yang lainnya. Semua panggilan itu tetaplah mengacu pada sosok yang satu yaitu, ibu. Panggilan itu lebih banyak sebagai wujud kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Juga merupakan bentuk kesepakatan yang berlaku di dalam lingkup keluarga. Sebagaimana halnya juga sebutan ibu guru yang lazim di sekolah-sekolah, maka disebutlah ustadzah ketika seorang ibu guru menjadi tenaga pendidik di sebuah pesantren.

Panggilan itu adalah sebuah tanda. Simbol yang disepakati bersama. Bagaimana agar kita memposisikan seorang ibu pada posisi yang semestinya. Bukan sebuah simbol yang meletakkan julukan yang tak semestinya. Bukan pula untuk merendahkan martabat seseorang.

Apapun kita memanggilnya seorang ibu tetaplah ibu. Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, tentu berharap agar anak-anaknya kelak menjadi anak yang tumbuh dewasa, mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Ibu merupakan tempat pertama kali seorang anak belajar. Dari tidak mengenal apa-apa menjadi banyak pengenalan terhadap keadaan sekitar. Dari tak bisa apa-apa, selain hanya menangis kemudian tumbuh mampu berjalan, berbicara dengan bahasa yang dikenalkan oleh ibu. Maka bagaimana ibu mengenalkan anak terhadap segala sesuatu merupakan landasan yang sangat penting bagi perkembangan anak pada tahap selanjutnya. Penanaman nilai-nilai sangat berarti ditanamkan sejak dini dari orang tua, terutama dari ibu. Agar di kehidupannya yang akan datang tidak salah arah.

Pendidikan anak oleh ibu tidak terputus hanya karena anak telah masuk ke sekolah. Pendidikan seorang ibu tetap sangat penting dalam mendampingi, meneladani dan mengarahkan anak-anaknya. Sekolah pada umumnya hanyalah memerlukan waktu sepertiga dari total waktu yang dimiliki anak tiap harinya. Jadi, tak sepantasnya seorang ibu menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya hanya di sekolah, karena waktunya lebih banyak berada di rumah. Hasil pendidikan yang baik akan diperoleh jika terjadi harmonisasi antara sekolah, orang tua dan lingkungan. Maka peran orang tua (ibu) sangat menentukan bagi keberhasilan pendidikan anak-anaknya.

Bisa dibandingkan anak yang tinggal di pondok pesantren yang sepenuhnya orang tua pasrah akan apapun yang terjadi dengan anaknya yang memang dipersiapkan secara matang untuk mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu, yang dipersiapkan akan lebih matang dan lebih siap beradaptasi dengan lingkungan baru, bahkan sanggup mewarnai teman-temannya dengan kebaikan. Kebiasaan positif yang telah ditanamkan oleh ibunya dapat ditularkan kepada temannya. Sebaliknya, anak yang dititipkan begitu saja ke pesantren tidak memiliki tujuan yang pasti. Anak tanpa bekal, sehingga yang diperoleh pun tidak akan semaksimal anak-anak yang telah dipersiapkan dengan matang.

Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang tidak sembarangan kepada para ibu, sampai-sampai disebutkan bahwa “surga berada di telapak kaki ibu”. Seseorang yang senantiasa menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina di akherat kelak.

Dalam kesempatan lain Rasulullah menjelaskan bahwa kewajiban seorang anak terhadap ibu dalam berbakti tiga kali lebih dibandingkan kepada seorang ayah. Rasul menyebutkannya sampai tiga kali kewajiban berbakti seorang anak baru yang keempatnya kepada ayahnya. Bahkan kebaikan orang tua terutama seorang ibu tak kan pernah terbalaskan oleh kebaikan yang dilakukan oleh seorang anak. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ketika seorang pemuda yang telah melayani segala kebutuhan ibunya, sampai menggendongnya kemana-mana, menyuapi makannya. Pada suatu ketika menanyakan kepada Nabi apakah yang telah dilakukannya itu bisa menggantikan apa yang telah ibu berikan kepada anaknya. Rasul menjawabnya sedikit pun tidak dapat menggantikan. Apa yang telah dilakukan merupakan kebaikan yang semoga akan menambahkan timbangan amal di akherat kelak.

Jadi, kewajiban kita kepada orang bukanlah membayar apa yang telah diberikan oleh orang tua. Kewajiban kita adalah berbakti kepada orang tua, menjaga agar hatinya tetap tenang, memperhatikan kebutuhannya agar tidak resah.

Comments (15) »

Bersama Calon Calon Guru

Sore dengan sedikit gerimis. Menunggu giliran masuk kelas, karena jadwalnya jam kedua. Sengaja kupilih jam kedua, yang bakda asar agar lebih leluasa mengatur waktu peralihan dari tingkat menengah ke tingkat calon guru. Peralihan suasana juga bisa menyempatkan rebah barang sejenak membuang penat, meski tak harus lelap. Sempat bercengkerama meski sekejap dengan anak dan ibunya tentu saja.

Desember memang bulannya hujan turun. Yang tadinya gerimis, kini sudah masuk kelas hujan pun menderas. Terdengar riuh di seberang kelas. Maklum GOR nya beratapkan seng.

Sore ini, menunggui para calon guru tampil ke depan kelas berlatih bagaimana jika menjadi guru. Beberapa pertemuan sengaja hanya menunggui mereka tampil seolah sebagai guru (kerennya sedang micro teaching). Memang sedang belajar menjadi guru.

Ada saja kejadian-kejadian lucu setiap pertemuan. Setiap praktikan menampilkan keunikan tersendiri. Suasana kelas terasa hidup. Teman-temannya yang berperan sebagai siswa antusias mengikuti praktek.

Tentang mata pelajaran apa yang diperankan sengaja saya bebaskan. Biarkan mengeksplor sendiri, tinggal diperkaya dengan evaluasi dan diskusi. Ada yang membahas IPA, ada pula Bahasa Arab, Pengetahuan Agama.

Comments (1) »

Selamat tinggal kurtilas

Meskipun agak telat kuposting, ini adalah peristiwa sehari yang lalu. Kurikulum 2013 secara jujur kuakui sangat merepotkan bagi pihak sekolah. Apalagi di sekolah pada posisi kurikulum. Jungkir balik kesana kemari mensingkronkan berbagai informasi agar dapat dilaksanakan di sekolah.

Bagiku tentu tak cukup hanya menyerap dari berbagai sumber. Peraturan menteri yang baru satu tahun sudah direvisi. Pelatihan-pelatihan pun sampai kami lakukan tanpa menunggu instansi yang menaungi kami. Hasilnya tetap saja membuat guru kurang bisa melaksanakan.

Hasil perenungan yang dari berbagai sumber itupun telah saya coba untuk lebih disederhakan. Disosialisasikan kepada rekan-rekan guru. Tetap saja masih banyak menyisakan masalah di sana sini. Betapa tidak, untuk menulis raport saja hanya dalam jangka waktu satu bulan telah menerima dua format yang berbeda dan sampai saat inipun guru-guru belum tahu seperti apa raport itu wujudnya. Saya hanya bisa merancang sebuah raport sementara yang lagi-lagi saya sederhakan tak sama persis dengan pedoman yang diterima. Mohon maaf bapak-bapak di kementrian, ini murni inisiatif saya untuk meringankan beban teman-teman satu almamater.

Alhamdulillah, hari kemaren sabtu 6 desember 2014 telah tersiar kabar dan diberitakan di televisi bahwa kurikulum yang telah bikin jungkir baik itu dinyatakan dicabut oleh sang mentri pemerintahan berikutnya.
Selanjutnya, bukan berarti apa yang selama ini saya dapatkan dan saya lakukan berkaitan dengan kurtilas ini menjadi sia-sia. Tentulah ada manfaat yang bisa diambil setidaknya ini sebagai sebuah pengalaman yang sangat berharga

Comments (6) »

menerjang kelu (Re Post)

menamatkanmu terhadang kelu
bukan atas nama tak mampu
tak lagi seperti dulu
menderaskanmu sembarang waktu

atas nama ini dan itu
kadang dilirik pun tidak
tergeletak di rak
terselip dalam deretan kisah
mahabarata, Ramayana,
senopati pamungkas,
dan setumpuk naskah berserak

menelisikmu kembali
terseok-seok mengais asa
tersaruk kerikil dan duri perjalanan
tetap berharap sempat
menamatkanmu tanpa kelu

(puisi ini kutuliskan untuk menyemangati diri agar bisa mengikuti jejak mereka yang sudah istiqomah dengan ODOJ)
kuingat kembali puisi ini karena serasa ada yang kurang dalam keseharian diri. Kadang masih bisa menyelipkan di antara yang lain, di lain waktu habis untuk hal-hal yang belum tentu penting, semoga mengingatkan kembali pernah berazzam masuk ke ODOJ.

Comments (14) »