Inginku

ingin kugoreksan kembali sederet rindu
yang pernah kuimpikan, kuinginkan
sejak masih kanak, saat belajar kata
begitu menggebu, menggelorakan jiwa

rasa itu
entah masihkah ada
di sela kebisingan kata
di antara rumus-rumus kimia
matematika, fisika,

ah,
kadang sayup-sayup terasa
menggelitik sejumput rindu
yang mungkin tersisa

masihkah tersisa?
: entahlah

Comments (3) »

Memaknai Rutinitas

Hidup ini merupakan sekumpulan rutinitas. Enam puluh detik berlalu menjadi satu menit akan berulang kembali hingga genap menjadi satu jam, yang kemudian menjadi duapuluh empat jam lazim kita sebut dengan satu hari. Angka tersebut akan kembali dimulai dari satu, dua, tiga, dan seterusnya sampai ke angka duapuluh empat lagi. Hari berganti hari dari ahad, senin, sampai sabtu kemudian kembali lagi ke hari ahad. Penanggalanpun demikian juga, tanggal satu, dua, tiga hingga tigapuluh atau tigapuluh satu kemudian kembali lagi ke penanggalan hari pertama, dan seterusnya hanya diseling beda ketika bulan Pebruari yang duapuluh delapan atau empat tahun sekali menjadi duapuluh sembilan sebagai tahun kabisat. Bermula dari bulan Januari berganti Pebruari, Maret hingga berakhir pada bulan Desember Baca entri selengkapnya »

Comments (2) »

Apapun Panggilannya, Dia Tetaplah Seorang Ibu (Repost)

Momentum hari ibu kali ini, diawali dengan kegiatan berakhirnya kegiatan pembelajaran semester ganjil yang ditandai dengan telah dibagikannya LHB (Laporan Hasil Belajar), yang untuk kelas tujuh membuat saya harus benyak begadang. Jadi mohon maaf kalau momentum hari ibu kali ini hanya saya tampilan tulisan usang alias repost tentang ibu

sebuah tulisan yang pernah dimuat di majalah pesantren:

Apapun kita memanggilnya, dia tetaplah seorang ibu. Tiap daerah memiliki panggilan yang khas untuk ibu mereka. Bahkan tiap keluarga juga pun tak jarang memiliki kesepatan bersama bagaimana harus memanggil seorang ibu. Panggilan itu bisa saja bunda, bundo, mungkin pula mama, emak, mam, mother. Orang jawa biasa memanggil ibunya dengan sebutan simbok atau biyung. Orang sunda tak jarang menyebutnya dengan panggilan mamah. Kini para aktivis dakwah tak sedikit yang membiasakan diri dalam keluarganya memanggil seorang ibu dengan sebutan umi.

Apapun itu, bagaimana kita menyebutnya tidak serta merta menunjukkan strata sosial seorang ibu di masyarakat. Dipanggil simbok bukan berarti lebih rendah derajatnya dibandingkan yang dipanggil mamah ataupun bunda. Tidak pula yang dipanggil umi sebagai jaminan lebih mulia dari yang lainnya. Semua panggilan itu tetaplah mengacu pada sosok yang satu yaitu, ibu. Panggilan itu lebih banyak sebagai wujud kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Juga merupakan bentuk kesepakatan yang berlaku di dalam lingkup keluarga. Sebagaimana halnya juga sebutan ibu guru yang lazim di sekolah-sekolah, maka disebutlah ustadzah ketika seorang ibu guru menjadi tenaga pendidik di sebuah pesantren.

Panggilan itu adalah sebuah tanda. Simbol yang disepakati bersama. Bagaimana agar kita memposisikan seorang ibu pada posisi yang semestinya. Bukan sebuah simbol yang meletakkan julukan yang tak semestinya. Bukan pula untuk merendahkan martabat seseorang.

Apapun kita memanggilnya seorang ibu tetaplah ibu. Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, tentu berharap agar anak-anaknya kelak menjadi anak yang tumbuh dewasa, mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Ibu merupakan tempat pertama kali seorang anak belajar. Dari tidak mengenal apa-apa menjadi banyak pengenalan terhadap keadaan sekitar. Dari tak bisa apa-apa, selain hanya menangis kemudian tumbuh mampu berjalan, berbicara dengan bahasa yang dikenalkan oleh ibu. Maka bagaimana ibu mengenalkan anak terhadap segala sesuatu merupakan landasan yang sangat penting bagi perkembangan anak pada tahap selanjutnya. Penanaman nilai-nilai sangat berarti ditanamkan sejak dini dari orang tua, terutama dari ibu. Agar di kehidupannya yang akan datang tidak salah arah.

Pendidikan anak oleh ibu tidak terputus hanya karena anak telah masuk ke sekolah. Pendidikan seorang ibu tetap sangat penting dalam mendampingi, meneladani dan mengarahkan anak-anaknya. Sekolah pada umumnya hanyalah memerlukan waktu sepertiga dari total waktu yang dimiliki anak tiap harinya. Jadi, tak sepantasnya seorang ibu menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya hanya di sekolah, karena waktunya lebih banyak berada di rumah. Hasil pendidikan yang baik akan diperoleh jika terjadi harmonisasi antara sekolah, orang tua dan lingkungan. Maka peran orang tua (ibu) sangat menentukan bagi keberhasilan pendidikan anak-anaknya.

Bisa dibandingkan anak yang tinggal di pondok pesantren yang sepenuhnya orang tua pasrah akan apapun yang terjadi dengan anaknya yang memang dipersiapkan secara matang untuk mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu, yang dipersiapkan akan lebih matang dan lebih siap beradaptasi dengan lingkungan baru, bahkan sanggup mewarnai teman-temannya dengan kebaikan. Kebiasaan positif yang telah ditanamkan oleh ibunya dapat ditularkan kepada temannya. Sebaliknya, anak yang dititipkan begitu saja ke pesantren tidak memiliki tujuan yang pasti. Anak tanpa bekal, sehingga yang diperoleh pun tidak akan semaksimal anak-anak yang telah dipersiapkan dengan matang.

Islam memberikan penghormatan dan kedudukan yang tidak sembarangan kepada para ibu, sampai-sampai disebutkan bahwa “surga berada di telapak kaki ibu”. Seseorang yang senantiasa menghormati ibunya akan ditempatkan di surga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina di akherat kelak.

Dalam kesempatan lain Rasulullah menjelaskan bahwa kewajiban seorang anak terhadap ibu dalam berbakti tiga kali lebih dibandingkan kepada seorang ayah. Rasul menyebutkannya sampai tiga kali kewajiban berbakti seorang anak baru yang keempatnya kepada ayahnya. Bahkan kebaikan orang tua terutama seorang ibu tak kan pernah terbalaskan oleh kebaikan yang dilakukan oleh seorang anak. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah ketika seorang pemuda yang telah melayani segala kebutuhan ibunya, sampai menggendongnya kemana-mana, menyuapi makannya. Pada suatu ketika menanyakan kepada Nabi apakah yang telah dilakukannya itu bisa menggantikan apa yang telah ibu berikan kepada anaknya. Rasul menjawabnya sedikit pun tidak dapat menggantikan. Apa yang telah dilakukan merupakan kebaikan yang semoga akan menambahkan timbangan amal di akherat kelak.

Jadi, kewajiban kita kepada orang bukanlah membayar apa yang telah diberikan oleh orang tua. Kewajiban kita adalah berbakti kepada orang tua, menjaga agar hatinya tetap tenang, memperhatikan kebutuhannya agar tidak resah.

Comments (15) »

Bersama Calon Calon Guru

Sore dengan sedikit gerimis. Menunggu giliran masuk kelas, karena jadwalnya jam kedua. Sengaja kupilih jam kedua, yang bakda asar agar lebih leluasa mengatur waktu peralihan dari tingkat menengah ke tingkat calon guru. Peralihan suasana juga bisa menyempatkan rebah barang sejenak membuang penat, meski tak harus lelap. Sempat bercengkerama meski sekejap dengan anak dan ibunya tentu saja.

Desember memang bulannya hujan turun. Yang tadinya gerimis, kini sudah masuk kelas hujan pun menderas. Terdengar riuh di seberang kelas. Maklum GOR nya beratapkan seng.

Sore ini, menunggui para calon guru tampil ke depan kelas berlatih bagaimana jika menjadi guru. Beberapa pertemuan sengaja hanya menunggui mereka tampil seolah sebagai guru (kerennya sedang micro teaching). Memang sedang belajar menjadi guru.

Ada saja kejadian-kejadian lucu setiap pertemuan. Setiap praktikan menampilkan keunikan tersendiri. Suasana kelas terasa hidup. Teman-temannya yang berperan sebagai siswa antusias mengikuti praktek.

Tentang mata pelajaran apa yang diperankan sengaja saya bebaskan. Biarkan mengeksplor sendiri, tinggal diperkaya dengan evaluasi dan diskusi. Ada yang membahas IPA, ada pula Bahasa Arab, Pengetahuan Agama.

Comments (1) »

Selamat tinggal kurtilas

Meskipun agak telat kuposting, ini adalah peristiwa sehari yang lalu. Kurikulum 2013 secara jujur kuakui sangat merepotkan bagi pihak sekolah. Apalagi di sekolah pada posisi kurikulum. Jungkir balik kesana kemari mensingkronkan berbagai informasi agar dapat dilaksanakan di sekolah.

Bagiku tentu tak cukup hanya menyerap dari berbagai sumber. Peraturan menteri yang baru satu tahun sudah direvisi. Pelatihan-pelatihan pun sampai kami lakukan tanpa menunggu instansi yang menaungi kami. Hasilnya tetap saja membuat guru kurang bisa melaksanakan.

Hasil perenungan yang dari berbagai sumber itupun telah saya coba untuk lebih disederhakan. Disosialisasikan kepada rekan-rekan guru. Tetap saja masih banyak menyisakan masalah di sana sini. Betapa tidak, untuk menulis raport saja hanya dalam jangka waktu satu bulan telah menerima dua format yang berbeda dan sampai saat inipun guru-guru belum tahu seperti apa raport itu wujudnya. Saya hanya bisa merancang sebuah raport sementara yang lagi-lagi saya sederhakan tak sama persis dengan pedoman yang diterima. Mohon maaf bapak-bapak di kementrian, ini murni inisiatif saya untuk meringankan beban teman-teman satu almamater.

Alhamdulillah, hari kemaren sabtu 6 desember 2014 telah tersiar kabar dan diberitakan di televisi bahwa kurikulum yang telah bikin jungkir baik itu dinyatakan dicabut oleh sang mentri pemerintahan berikutnya.
Selanjutnya, bukan berarti apa yang selama ini saya dapatkan dan saya lakukan berkaitan dengan kurtilas ini menjadi sia-sia. Tentulah ada manfaat yang bisa diambil setidaknya ini sebagai sebuah pengalaman yang sangat berharga

Comments (6) »

menerjang kelu (Re Post)

menamatkanmu terhadang kelu
bukan atas nama tak mampu
tak lagi seperti dulu
menderaskanmu sembarang waktu

atas nama ini dan itu
kadang dilirik pun tidak
tergeletak di rak
terselip dalam deretan kisah
mahabarata, Ramayana,
senopati pamungkas,
dan setumpuk naskah berserak

menelisikmu kembali
terseok-seok mengais asa
tersaruk kerikil dan duri perjalanan
tetap berharap sempat
menamatkanmu tanpa kelu

(puisi ini kutuliskan untuk menyemangati diri agar bisa mengikuti jejak mereka yang sudah istiqomah dengan ODOJ)
kuingat kembali puisi ini karena serasa ada yang kurang dalam keseharian diri. Kadang masih bisa menyelipkan di antara yang lain, di lain waktu habis untuk hal-hal yang belum tentu penting, semoga mengingatkan kembali pernah berazzam masuk ke ODOJ.

Comments (14) »

Di Beranda

mari, mari kita bercengkerama di beranda
mereguk aroma gerimis yang tertunda
terbawa jeda musim yang berbeda
biarpun tanpa hidangan di meja

puluhan purnama telah kita telusuri
jejak-jejak musim silih berganti
tetap setia kembali ke bentuk sabit
meski kadang terhalang gerimis

hanyalah setangkai puisi
yang bagimu terasa asing
kuguratkan di sudut hati

Comments (5) »