Tinggalkan komentar

Sekedar Gumaman

Ini bukanlah puisi. Hanya gumaman tentang puisi. Pun bukan puisi orang lain. Hanyalah puisiku sendiri yang kadang juga tak kumengerti.

Kok aneh sih, punya sendiri tak dimengerti.

Itulah diriku. Aku tak mengerti secara pasti kapan mulai menulis puisi. Tak mengerti saat yang tepat kapan bisa berpuisi. Tak jarang tak mengerti apa maksud puisi yang pernah kutulis diwaktu silam. Yang pasti itulah sejarah diriku dalam berpuisi.
Yang tak kumengerti lagi adalah entah mengapa sebagian besar puisi-puisiku bernada muram. Gumam. Pernah sih kucoba menulis yang ceria, jadinya terasa kurang serius, seperti candaan, atau malah obrolan. Seperti Negeri Senjanya Pak Seno.

Cara mendapatkan puisi aku lebih tak mengerti lagi. Kadang tiba-tiba saja menyelinap setelah membaca sesuatu. Meski yang kutulis belum tentu langsung berkaitan dengan yang barusan dibaca, atau dilihat. Bisa juga langsung berkaitan tapi yang membaca memaknai berbeda, seperti tak jadi meminta kutuliskan setelah melihat mangga sedang berbunga. Tak jarang justru yang terjadi sebaliknya maunya nulis, sudah ngubek sana ngubek sini cari bahan bacaan agar kesangkut, nyatanya tak dapat sehurufpun sebagai ide untuk berpuisi.

Mohon maaf ini hanyalah gumaman saja, tak usah dimasukkan ke dalam benak, cukup dilewatkan saja.

Iklan
Tinggalkan komentar

Maunya Dimengerti

di sepagi ini yang tanpa kopi
kembali menjelajahi ragam opini
masih saja irisan duri-duri
saling menorehkan nyeri
ada yang sabar penuh mengerti
ada yang maunya hanya dimengerti

ya, sepagi ini tanpa kopi
menelusuri jejak opini
yang hanya mau dimengerti
tak sendiri

ingin kusruput kopi tapi belum beli
cukuplah menghisap angin sepi
kembali menelusuri jejak opini
pagi-pagi juga banyak kutemui
setegar batu karang ingin dimengerti
lalu…
siapa yang mau mengerti

disudut kampungmanis, 9:18, 14/10/18

6 Komentar

Ketika Rindu Puisi

kampungmanisku

Meskipun aku suka menulis puisi bukan berarti setiap saat bisa berpuisi. Bukan pula setiap bersitan bayang mewujud puisi. Bahkan tak jarang pula hasrat begitu menggebu untuk menarikan jemari menata huruf-huruf menjadi jalinan puisi, tapi mampat tak dapat ide. Mungkin ini juga terjadi pada penulis yang lain.

Anehnya pula ketika suntuk

Lihat pos aslinya 288 kata lagi

Tinggalkan komentar

Mengurai Kembali

sesiang ini bersama secangkir kopi
mengurai kembali benang ingatan
tentang masa depan yang dijanjikan
katanya membentang luas tak terperi
keindahan, kemakmuran tak perlu beli
karena semua milik kita sendiri

sruput demi sruput terkurangi
entah bisa kutemui yang manalagi
semenjak ilusi selalu merajai
bahkan nafas kita sendiri dihantui
seolah bilang jangan beranjak pergi
atau tak usah bangun dari mimpi

sruput lagi spruput lagi
bangunan mimpi yang kian meninggi
mengawang ilusi kehilangan pondasi
demi memenuhi secuil ambisi gengsi
dan tegaknya sebongkah harga diri

akankah terjerembab tak terperi
rasa ngeri yang tak lagi terasa nyeri
akibat jatuh teramat tinggi

(bilangnya kopi padahal teh, sesiang dikampungmanis 14:41 24042018)

Tinggalkan komentar

Sepenggal Rasa

sepenggal rasa dipagi hari
sesap pahit meremas ngilu
sengilu ingatan yang terabaikan
terpatri dalam bertahun silam
lewat kalimat sihir mempesona

aku sadar, ini salahku
siapa suruh telan pil pahit itu
padahal bukan obat mujarab
hanyalah nyeri teredam sesaat
seperti suntikan opium nikmat

biarlah tetap kusesap pahit ini
sebagai pengingat pernah penat
dalam jerembab danau pekat
terjerat pesona serasa malaikat

masih juga kusesap sisanya dipagi ini
sebagai teman penuh harap
hari esok lepas dari jerat
merdeka!
Kata anak muda seperempat abad

Sesapan terakhir
yang hanya secangkir
tanpa kertas selinting
tandas sudah

8: 25 bersama secangkir kopi dikampungmanis 15042018

Tinggalkan komentar

Negri Senjanya Pak Seno

pak seno bercerita tentang negeri senja
mungkin ada yang bilang ia gila
mana ada negeri yang selalu senja
tak beringsut sedikit meninggalkan senja
yang ada pastilah bergulirnya senja
terbenam di ufuk menjadi malam
terbit kembali, itulah setelah fajar
dan bergulir siang, barulah kembali senja

biarlah orang bilang apa
pak seno tetap melanjutkan cerita
negeri senja di kuasai seorang wanita
berjuluk sang tirana
apapun yang ada dia punya telinga
sehingga tahulah segalanya
entah, sedikit terlewat dari indranya
setiap penunggang kuda hanya dari selatan
jadi segenap tumpuan para kawula

entah prajurit atau begal bahkan pengembara
dari selatan harus siap jadi pahlawan
jika tak sudi, siaplah mati merana

pak seno tetaplah bercerita
meski ada yang bilang ini metafora
semacam sandyakala yang lama
maka dipersonifikasi sebagai senja
senja yang tak beringsut dari tempatnya

efek membaca negeri senja dikampung manis 21:01 14042018

Tinggalkan komentar

Mungkinkah

mungkinkah kita bicarakan lagi
bait bait yang telah lama terpatri
dalam tumpukan lembaran suci
karena telah diingkari

mungkinkah ini
sedang kita tak lagi sehati
jangan salah arti, ini bukan kitab suci

malam tanpa gerimis dikampungmanis, 20:38 10/04/2018