fiksi

Hamukti Palapa (plus)

Kangen dengan novel bersetting sejarah, namun apa daya belum ada yang baru. Belum sempat beli, juga belum mengaduk kembali kumpulan literasi yang di almari. Maka cukuplah kuaduk kembali postingan usang tentang intrik-intrik di masyarakat. Tak pernah bosan kubaca kembali. Dan mungkin Iklan

Tak Jadi Meminta

malu aku pada pohon mangga tuk meminta angin menggiring awan biarlah pintalannya membesar di angkasa entah kapan kan bercanda dengan tanah meski tak jarang menggelayut ingin tumpah debu-debu menebal di jalanan bukan pertanda kehabisan air tanah apalagi padi masih hijau di sawah gagah mencengkeram tanah tuk apalagi meski kupinta angin membujuk awan bila bunga mangga […]

Bolehlah

bolehlah kuabaikan fatwa ahli peran memfatwakan ahli fatwa mungkin saja ia ngakak tertawa bila kubicara seolah ahli peran ahli peran kok diajari bersandiwara hanya oleh orang awam

Inginku

ingin kugoreskan kembali sederet rindu yang pernah kuimpikan, kuinginkan sejak masih kanak, saat belajar kata begitu menggebu, menggelorakan jiwa rasa itu entah masihkah ada di sela kebisingan kata di antara rumus-rumus kimia matematika, fisika, ah, kadang sayup-sayup terasa menggelitik sejumput rindu yang mungkin tersisa masihkah tersisa? : entahlah

Di Beranda

mari, mari kita bercengkerama di beranda mereguk aroma gerimis yang tertunda terbawa jeda musim yang berbeda biarpun tanpa hidangan di meja puluhan purnama telah kita telusuri jejak-jejak musim silih berganti tetap setia kembali ke bentuk sabit meski kadang terhalang gerimis hanyalah setangkai puisi yang bagimu terasa asing kuguratkan di sudut hati

Golput

nggaklah aku memilih untuk tetap memilih tak usah kau bujuk untuk tidak memilih syukur-syukur kau ikut memilih aku tak butuh janji apalagi bujuk rayu semacam kembali ke masa lalu aku tak amnesia kiprah yang yang lewat tercatat kuat dalam benak meski iklan kini berbeda (hanyalah igauan anak bawang yang sok sibuk, sehingga lama tak sempat […]

Oleh Sepotong Koran

Entah tahun berapa tak lagi kutemukan dalam memoriku. Darimana pula kudapatkan juga tak ada ingatan yang bisa dilacak. Hanya saja selembar pun tak utuh telah membuatku bermimpi jauh mengawang. Bahkan namanyapun tak ingat persis apakah yang terbit pagi ataukah siang, yang jelas asalnya dari Semarang. Kuulang dan ulang lagi membacanya.