puisi

Dalam Pengepungan

musim kering berkepanjangan menggali parit tuk perlindungan model baru dalam peperangan bahkan asing dalam pandangan ahzab datang menyerang dari sekumpulan para pendendam tak rela kehilangan kedudukan ingin memadamkan api terang musim kering melilit sampai batu pengganjal perut mengganjal rasa lapar yang menuntut khandaq pertahanan baru laju ahzab jadi termangu gagap melangkah makin tak tahu bertahan […]

Tak Berjudul

kau bilang jangan terprovokasi tak ada kaitan dengan keyakinan hanyalah urusan internal mereka kubilang kamuflase basi retorika sana sini sembunyikan fakta asli sekedar upaya orasi

Setengah tiang

setengah abad baru juga lewat kisah kemanusian yang menyayat dalam ikatan siksa sekarat tubuh-tubuh menjadi mayat di lubang dalam nan pengap benturan ideologi penuh darah intrik-intrik sengaja memicu marah tak peduli sebenarnya lawan tak salah di akhir tragedi tak mau dianggap salah prasasti ditetapkan setengah tiang penghormatan sekaligus perkabungan terhadap nyawa melayang tak berbilang menghadang […]

Tak Jadi Meminta

malu aku pada pohon mangga tuk meminta angin menggiring awan biarlah pintalannya membesar di angkasa entah kapan kan bercanda dengan tanah meski tak jarang menggelayut ingin tumpah debu-debu menebal di jalanan bukan pertanda kehabisan air tanah apalagi padi masih hijau di sawah gagah mencengkeram tanah tuk apalagi meski kupinta angin membujuk awan bila bunga mangga […]

Inginku

ingin kugoreskan kembali sederet rindu yang pernah kuimpikan, kuinginkan sejak masih kanak, saat belajar kata begitu menggebu, menggelorakan jiwa rasa itu entah masihkah ada di sela kebisingan kata di antara rumus-rumus kimia matematika, fisika, ah, kadang sayup-sayup terasa menggelitik sejumput rindu yang mungkin tersisa masihkah tersisa? : entahlah

menerjang kelu (Re Post)

menamatkanmu terhadang kelu bukan atas nama tak mampu tak lagi seperti dulu menderaskanmu sembarang waktu atas nama ini dan itu kadang dilirik pun tidak tergeletak di rak terselip dalam deretan kisah mahabarata, Ramayana, senopati pamungkas, dan setumpuk naskah berserak menelisikmu kembali terseok-seok mengais asa tersaruk kerikil dan duri perjalanan tetap berharap sempat menamatkanmu tanpa kelu […]

Di Beranda

mari, mari kita bercengkerama di beranda mereguk aroma gerimis yang tertunda terbawa jeda musim yang berbeda biarpun tanpa hidangan di meja puluhan purnama telah kita telusuri jejak-jejak musim silih berganti tetap setia kembali ke bentuk sabit meski kadang terhalang gerimis hanyalah setangkai puisi yang bagimu terasa asing kuguratkan di sudut hati