2 Komentar

Musim Laron telah Tiba

laron
November.
Hujan kemaren lumayan deras.
Meski hanya sekilas.
Musim kawin laron telah tiba.
Berebut pintu sempit meninggalkan sarang.
Dalam penjagaan ketat para prajurit.
Mengucap selamat jalan. Tak ada selamat datang.
Laron-laron tidak akan pernah kembali pulang.
Perbendaraan kata itu tak ada dalam kehidupannya.

Anak-anak kecil menunggu dengan sabar.
Berbekal wadah plastik putih sekiloan.
Menunggui tiga atau empat sarang bersamaan.
Sambil berkelakar. Begitulah sekelabatan
ingatanku semasa sekolah dasar.
Belum pulang jika belum terisi penuh laron.
Sampai Tejo Sumarto mengingatkan.
Dari RRI lantang mengumandang.
Pelajaran yang tak boleh ditinggalkan.
Pertanda hari sudah beranjak siang.
Riang bawa pulang, untuk lauk makan siang.
Nitip ke bunda tersayang.

Hancurlah sarang.
Jika keduluan ayam.
Prajurit rayap blingsatan,
tak berkutik jadi santapan.
Laron sembunyi ketakutan,
tak jadi meninggalkan sarang.
Rayap pekerja ribut menutup sarang.
Meski bukan jaminan bisa menyelamatkan sarang.
Sial bagi yang terlanjur kena patok ayam.

November mulai basah.
Manuver di udara seperti kapal terbang.
Laron-laron bercengkerama menikmati udara.
Sebelum benar-benar siang.
Sebelum melepaskan sayapnya.
Apesnya disambar burung yang lapar.
Tak sempat memberi kabar.

Yang bertahan sampai senja.
Belum juga melepaskan sayapnya.
Mengitari cahaya.
Lampu-lampu yang dipasang manusia.
Terperangkap dalam terang.
Menggelepar kesakitan.
Mungkin juga ditangkap orang.
Sebagian dilahap cicak yang merangkak,
menjulurkan lidahnya memerangkap.

Yang berhasil melalui segala rintangan.
Segera melepaskan sayap.
Mencari dan menemukan pasangan.
Berdua beriringan.
Meneruskan pergiliran keturunan.
Tidak lupa membuat sarang baru yang nyaman.
Membentuk keluarga baru.
Lupakan dari mana bermula terbang.
Setelah sang jantan purna pada tugasnya.

Pagi November 19 dimeja kerja

2 comments on “Musim Laron telah Tiba

  1. Sularno maksudnya. Bukan Sukarno.

  2. Kalau musim hujan termasuk waktu musim kawin laron ya.

    Iya jadi ingat biasanya kalau nyelung laron bukan pada waktu kemarau.

    Ngomongin laron, saya punya kenalan seorang pria yang menerima SK Pegawai Negeri, dalam tulisan nama penerima itu tertera tulisan Sularon.

    Usut punya usut ternyata ada kesalahan tulis, seharusnya tertera Sukarno. Tapi ketika diketik menjadi Sularon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

True Love for Sale

by Peach Berman

trozos de mazapán.

cartas o historias pequeñas de amor tan dulces y desmoronables como un mazapán.

HorseAddict

The world is best viewed through the ears of a horse.

Akhwat Peramu Kata

Meramu, Menulis, lalu dikenang 🌻

DoRee MelNic

Grief Out Loud. Art. And Life.

MYSELF

AS HUMILDES OPINIÕES DE UMA MULHER DE CORAGEM QUE DIZ SIM À VIDA!

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Wholly Integrating the Spiral

Spirit, Mind, Body, and Soul Spiral Paths to Freedom

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

° BLOG ° Gabriele Romano

The flight of tomorrow

Katherine's Blog

In Kate's World

BBYCGN Writing

Creative writing, bizarre stories, original quotes, raw poetry and authentic artwork as a pathway for powerful feelings, emotions, thoughts and experiences.

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: