2 Komentar

Bait-baitnya Terluka

Bulan kemaren yang tak jadi kutuliskan. Jalan sunyi puisi kenapa jadi pilihan. Kubaca berulang sampai bosan lalu kukirim ke kebun belakang. Barangkali rerimbun belukar bisa menyimpankan. Atau tanah gembur menumbuhkan kesuburan puisi. Mungkin sesekali perlu disiangi. Asalkan jangan rayap pelan-pelan merayap menggerogoti sisa-sisa diksi yang belum jadi. Inginnya terus berkembang seperti kenanga di ujung tegalan menguning aromanya disukai banyak orang. Kusimpan untuk nanti perjalanan pulang.

Denyut jalan keluar yang belum kutemukan. Hanya bisa tak beranjak tak bisa juga setangkai puisi kukirimkan. Sejak kepulangan tak diinginkan. Dihadang diperjalanan, ada cek point. Kabar itu segera menebar, lewat kawat telpon, pesawat televisi bertubi-tubi, juga udara yang menyisip ke celah-celah whatsapp, para pemilik android yang saling melanjutkan. Lengkap dengan foto spanduk penghalang jalan. Juga suara lirih penolakan kepulangan. Biarlah kutanam di kebun belakang. Bila waktunya nanti ada kepulangan, akan kucabut kembali . Oleh-oleh yang diperam diam-diam.
Bait-baitnya terluka. Pasti. Penolakan kepulangan, meretakkan diksi-diksi yang belum sempat kurapikan, bekal perjalanan yang tak bisa dilangsungkan. Aku mengerti, penolakan kepulangan bukan sepenuhnya keinginan mereka. Rindu yang selalu tumbuh semacam puisi yang semakin menggeliat tak bisa ditutup rapat. Pemuda-pemuda itu menjagakan orang tua kita, merawat kampung kita, tak ada secuil makna mengusir kita. aku sangat mengerti itu. Tapi rindu selalu mencari jalannya untuk bertemu.

Biarlah ujung puisi ini menemukan bunyi di tengah sunyi. Pandemi yang baru sekali ini menghalangi langkah pergi. Larikan doa, ya larikan doa di ujung puisi ini, mari kita lantunkan bersama. Cukup di dalam dada, tak perlu banyak mengundang perantara. Semoga semuanya kembali seperti semula.

Kampungmanis, 7 Mei 2020

2 comments on “Bait-baitnya Terluka

  1. ameen … Semoga semuanya kembali seperti sediakala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

True Love for Sale

by Peach Berman

trozos de mazapán.

cartas o historias pequeñas de amor tan dulces y desmoronables como un mazapán.

HorseAddict

The world is best viewed through the ears of a horse.

Akhwat Peramu Kata

Meramu, Menulis, lalu dikenang 🌻

DoRee MelNic

Grief Out Loud. Art. And Life.

MYSELF

AS HUMILDES OPINIÕES DE UMA MULHER DE CORAGEM QUE DIZ SIM À VIDA!

Voices from the Margins

A welcoming space for resistance to the forces of oppression and hegemony.

Wholly Integrating the Spiral

Spirit, Mind, Body, and Soul Spiral Paths to Freedom

Wolff Poetry Literary Magazine

A Poet's Place | Wolff Poetry Literary Magazine is Publishing Poetry Submitted by Published & Emerging Writers,

° BLOG ° Gabriele Romano

The flight of tomorrow

Katherine's Blog

In Kate's World

BBYCGN Writing

Creative writing, bizarre stories, original quotes, raw poetry and authentic artwork as a pathway for powerful feelings, emotions, thoughts and experiences.

Istiqomah, bersabar, dan bersyukurlah selalu... Karena Allah selalu ada bersamamu...

Tersenyumlah,, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu (Tasaro GK)

%d blogger menyukai ini: